Perjalanan Berjilbab Belasan Tahun dan Kenapa Saya Nyaman-nyaman Aja Tuh

khalimatunisa.com
Saya dan Jilbab Saat Balita

Tulisan ini dibuat setelah membaca sebuah artikel tentang renungan seorang pemakai jilbab di hari ulang tahunnya. Selain mau berbagi perspektif, tulisan ini bolehlah dianggap sebagai hadiah ulang tahun yang priceless buat dia. 

Continue reading Perjalanan Berjilbab Belasan Tahun dan Kenapa Saya Nyaman-nyaman Aja Tuh

Mengapa Ibu-ibu Saling Berkompetisi

Let’s love more and judge less

Di hari ibu sedunia dua hari lalu, saya merenungkan alasan-alasan mengapa para ibu cenderung saling berkompetisi satu sama lain, alih-alih saling mendukung dengan tulus. Kompetisi yang saya maksud ialah, selalu ingin merasa lebih baik dan cenderung mencari-cari kelemahan yang lain. Kenapa saya batasi subjeknya di ranah ibu-ibu, karena secara personal situasi ini kental sekali saya rasakan ketika telah menjadi seorang ibu. Meskipun, konon, kompetisi ini selalu menghantui hidup perempuan sejak kecil.

Continue reading Mengapa Ibu-ibu Saling Berkompetisi

Menakar Politik Identitas dalam Kanal Youtube “Menjadi Manusia”*

Menjadi Manusia

Media merupakan alat representasi, sebab ia mampu menciptakan ruang untuk menampilkan berbagai simbol yang menggambarkan eksistensi suatu hal. Jika mengamini definisi Stuart Hall (1997) bahwa representasi adalah konstruksi makna melalui bahasa, maka penting untuk memiliki kepekaan terhadap penggunaan segala bentuk “bahasa” oleh media. Hal ini dikarenakan produksi makna atau pengetahuan oleh media dapat berimplikasi pada ekslusi kelompok tertentu atau menjadi senjata bagi kelompok marjinal untuk melakukan politik identitas.

Continue reading Menakar Politik Identitas dalam Kanal Youtube “Menjadi Manusia”*

Ilusi Gender Menyusui

Menyusui

Di pagi pertama menjadi seorang Ibu, ada perasaan gugup yang asing. Matahari sudah menyembul kala aku terbangun dengan sekujur badan yang masih remuk redam. Rasanya ingin tidur lebih lama, tapi makhluk kecil di salah satu sudut ruangan sana tak bisa lama-lama menunggu. Sebisa mungkin kucoba bangkit dan turun dari ranjang tanpa bantuan. Dengan terseok-seok kutuju kamar mandi dan kumantap-mantapkan hati untuk mengguyur sekujur tubuh yang baru saja melahirkan kehidupan ini. Kucoba melupakan nyeri-nyeri yang ada dengan memfokuskan pikiran pada gadis kecil yang kurindukan sejak semalam itu. Setelah segala persiapan kuanggap paripurna, termasuk sarapan, aku pamit pada suami yang masih terkapar setengah sadar untuk pergi ke ruang bayi. Kubiarkan dia meneruskan ibadahnya karena toh di ruangan bayi hanya ibu yang bisa masuk. Dengan langkah yang ditegap-tegapkan, kucoba menekan emosi-emosi yang muncul; antara antusias yang membuncah, kerinduan yang teramat, dan grogi level akut. Harus percaya diri, kataku pada diri sendiri. Ya, mulai pagi itu satu misiku yang lain dimulai: menyusui.

Continue reading Ilusi Gender Menyusui