Catatan 2020: Tentang Penerimaan dan Kesadaran

Ibu, Azda, Ayah

Sudah dua hari ini emosi Azda meluap luar biasa yang membuat Ayah-Ibunya shock dan bingung. Semua serba salah, minta apapun selalu sambil nangis, bahkan saat tidur kebangun terus dan nangis.

Tangisannya meledak berawal dari nonton video diri sendiri dengen efek kacamata dan wig (via filter Instagram) yang sekarang bikin dia ketakutan. Anehnya tangisan itu berlangsung lama sekali. Kemudian perkiraan Ibu bergeser, oh mungkin karena nggak enak badan: anget dan sedikit pilek. Tapi nyatanya setelah panas dan pileknya reda, cranky-nya nggak ikut surut.

Akhirnya Ibu harus mengakui kalau Azda memendam emosi selama seminggu belakangan karena perhatian Ibu sedang tidak tercurah padanya. Ayah juga sibuk bekerja. Di akhir tahun ini Ibu sedang mengejar satu deadline. Di waktu yang sama Bude yang bantu momong Azda juga sedang libur.

Ibu yang biasa bekerja dari dalam kamar tertutup sekarang pegang laptop sambil nemenin Azda main, sambil nyuapin, sambil mangku Azda membiarkan dia screentime lama dari TV atau HP, meski Ibu tahu kalau screentime membuatnya jadi lebih cranky. Satu waktu dalam sehari, Ayah sengaja mengajak Azda main ke tetangga desa sampai berjam-jam demi Ibu bisa punya waktu sendiri di depan laptop.

Ternyata meski kelihatan baik-baik saja, Azda merasa tidak diacuhkan. Ia tahu Ayah dan Ibu sedang tidak mengasuhnya dengan mindful. Sekarang emosi itu meledak, dia menagih perhatian Ayah dan Ibu dengan cara yang mencengangkan. Bahkan Azda yang biasanya semangat nenen, kini mulai menolak mimik Ibu. Sampai Ibu menulis ini, ‘unjuk rasa’ itu belum berhenti.

Kejadian ini jadi catatan penting untuk Ibu dan Ayah di akhir tahun. Azda menunjukkan perkembangan emosi yang mengingatkan kami untuk tidak nge-treat dia sembarangan lagi. Ibu kembali diingatkan atas penerimaan peran sebagai Ibu. Menjadi Ibu nyatanya tidak terjadi otomatis saat seorang perempuan melahirkan melainkan proses terus menjadi.

Ibu bukannya tidak lagi bisa bermimpi tapi Ibu tidak bisa lagi menuruti obsesi pribadi tanpa bernegosiasi dengan Azda di sana. Ibu tidak bisa mengejar mimpi sambil mencoba menihilkan eksistensi Azda untuk sementara. Ibu harus menerima bahwa Ibu tidak bisa berlari sekencang dulu saat Ibu hanya memiliki dan dimiliki oleh diri sendiri. Sekarang Ibu punya teman berjalan, Ayah dan Azda, yang pasti membuat perjalanan Ibu semakin lambat namun sekaligus lebih bermakna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *