Semesta Welas Asih itu Bernama Krapyak

Panggung Krapyak

Berita duka dari Krapyak membuat hati ini masygul. Ibu Nyai Hj. Hanifah binti KH. Ali Maksum, istri dari almaghfurlah KH. Hasbullah kapundhut. Kabar itu menyebar cepat di lini masa sejak pagi.

Saya membaca sejumlah kenangan para santri terhadap ibu Nyai. Santri-santri senior, yang kini telah menjadi kiai, mengatakan beliau adalah orang yang sangat ramah, perhatian, dan nguwongke –memanusiakan santri. Mereka yang sowan di ndalem sering ditawari makan. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi santri saat beroleh kesempatan makan di ndalem.

Makan di ndalem mungkin terdengar sederhana. Banyak orang yang menawari tamunya makan saat bertandang. Tapi ndalem, rumah pengasuh pesantren itu, adalah tempat yang tak pernah sepi. Orang-orang berdatangan untuk bermacam urusan, mulai dari pejabat hingga masyarakat yang minta solusi atas permasalahan hidupnya. Seorang pengasuh pesantren yang besar bahkan legendaris, yang di benaknya berjubel sejumlah urusan dan problem umat, lalu masih mempersilakan santrinya makan, sambil menyebut namanya, di ruang makan dan jamuan yang sama dengan tamu-tamu terhormat lainnya, adalah hal yang istimewa.

Ini mengingatkan saya pada almaghfurlah presiden Gus Dur. Saat menjabat, ia mengubah wajah Istana Merdeka menjadi istana rakyat dengan melnggelar open house: meladeni jabat tangan rakyat dan berbagi hidangan gratis di hari raya. Alih-alih melakukannya di teras, presiden Gus Dur mempersilakan rakyat berduyun-duyun masuk ke ruang credential. Tempat yang sama untuk melangsungkan acara-acara kenegaraan atau menerima pemimpin-pemimpin Negara lain. Sikap memanusiakan dan menghargai tanpa pandang bulu seperti inilah yang membuat Gus Dur dan para kiai dan nyai di pesantren begitu dicintai.

Kembali ke cerita Nyai Hanifah, saya sendiri pernah beberapa kali sowan ke ndalem Bu Nyai. Seringnya untuk sowan KH. Hilmy Muhammad, putra sulung beliau, demi merepotkan beliau untuk satu dua urusan saya. Dalam kunjungan itu, Pak Hilmy sering ndhawuhi makan. Bukan sekadar tawaran basa-basi tapi setengah memaksa. Benar-benar ingin tamunya mencicipi hidangan yang disediakan. Meski tamu itu hanya berbentuk santri amburadul seperti saya.

Bahkan, saya dan seorang kawan pernah ditimbali khusus untuk makan duren. Ya Allah.

Saya sering kagum dengan perhatian Pak Hilmy. Beliau adalah cucu mantan Rois Aam PBNU, KH. Ali Maksum, yang merupakan guru kiai-kiai besar seperti salah satunya KH. A. Mustofa Bisri atau Gus Mus yang jamak dikenal publik karena welas asihnya. Kini beliau menjabat sebagai anggota DPD RI perwakilan DIY. Sama sekali bukan orang sembarangan.

Pada 2013 saya bersama seorang kawan pernah dengan culunnya sowan Pak Hilmy untuk wawancara, tanpa tahu siapa sesungguhnya beliau. Justru beliau yang memperkenalkan diri pada kami tanpa merasa tersinggung. Sesaat setelah pertemuan itu Pak Hilmy dengan bangga menandai kami di status Facebook-nya bahwa baru saja didatangi dua santri kinyis-kinyis untuk mengenang almaghfurlah KH. A. Warson Munawwir.

Setelah itu, Pak Hilmy masih terus memberi perhatian pada saya yang bahkan malu mendaku diri sebagai santri ini. Tak segan beliau memberi satu dua amanah yang kerap tak bisa saya laksanakan sesuai harapan. Terlampau sering saya mengecewakan beliau, namun kucuran welas asihnya tak pernah kering. Sampai setelah menjabat sebagai anggota legislatif pun, di tengah kesibukannya, beliau masih berkenan memberi kata pengantar untuk buku yang saya dan suami terbitkan.

Syahdan pada 2013 pula saya sowan KH. Afif Hasbullah, adik Pak Hilmy. Tak dinyana saat itu Pak Afif memberi lecutan besar bagi saya dan seorang kawan untuk menyelesaikan proyek yang sedang kami lakukan. Meski kami tidak pernah bertemu sebelumnya.

Saya sungguh terkesan pada perhatian dan dukungan kakak beradik ini kepada santri.

Air mata saya hendak jatuh kalau ingat peristiwa di tahun 2015. Saat itu saya benar-benar merasa tertekan, sendirian, tak tahu apa yang harus dilakukan, serba salah, dan perasaan-perasaan yang sulit saya cari padanannya. Di tengah emosi besar yang melanda itu Pak Hilmy rawuh dan menyerukan apresiasi kepada saya dengan lantang di hadapan ratusan orang.

Sekarang ketika saya membaca kesaksian para santri senior tentang keteladanan Nyai Hanifah Ali, saya jadi tahu satu hal. Sifat memanusiakan manusia yang terpancar dari putra-putri beliau rupanya adalah nilai yang berhasil beliau tanamkan. Hal ini membuat saya tercenung sekian lama. Sebagai ibu baru yang jauh dari kata baik, dari Bu Nyai Hanifah saya belajar ilmu parenting melalui laku, melampaui teori-teori yang dipaparkan di buku-buku: menjadi ibu yang mewariskan sikap welas asih, memanusiakan manusia.

***

Tidak saja dari keluarga Bu Nyai Hanifah, perasaan dicintai sebagai santri itu saya temukan di hampir seluruh ndalem pengasuh Krapyak. Dengan Bu Nyai Warson, pengasuh komplek yang hampir sewindu saya tinggali, hati saya terpaut sangat kuat. Meski di pondok saya bukan santri yang taat-taat amat, kesehatan mental saya sempat terguncang saat mulai menapaki hidup jauh dari beliau. Saat saya bertanya-tanya mengapa terus menerus dilingkupi kehampaan, jawabannya ternyata karena saya jauh dari guru. Kedekatan emosi yang bahkan melebihi kedekatan dengan ibu kandung. Satu hal yang saya sendiri sulit mencari penjelasannya.

Ibu Nyai Warson selalu saya butuhkan dan selalu ada di fase-fase penting hidup saya. Beliau dan putra-putri beliau-lah yang menatah kepribadian saya.

Saat pertama kali masuk pesantren saya benar-benar buta. Tak ada bekal ilmu maupun adab. Mencelupkan diri ke dunia yang baru membuat saya bergejolak, penuh pertanyaan, tapi anehnya tidak sekalipun terbersit pikiran untuk hengkang. Mungkin ini karena doa kedua orang tua. Diri ini justru semakin larut, larut, dan terhanyut.

Meski akhirnya saat boyong dari pesantren saya masih miskin ilmu dan tuna akhlak tapi ada satu hal yang berubah dari diri saya yang dulu. Saya jatuh cinta pada guru-guru di pesantren.

Dulu saya membayangkan setelah saya masuk pesantren saya akan jadi ahli agama. Ternyata yang terjadi di luar yang saya bayangkan. Ada dimensi lain dari kehidupan pesantren yang tidak pernah saya tahu sampai saya mengalaminya sendiri. Menjadi santri Krapyak adalah menyelami samudra welas asih para guru. Betapa tidak?

Di sana saya bertemu guru yang menghaturkan terima kasih pada santri durjana.

Di sana saya mendengar seorang guru berkata “kami tidak akan bisa tanpamu”.

Di sana saya mengenal guru yang secara mengejutkan rawuh di halaman rumah saya, tanpa pernah bertandang sebelumnya, pada malam sebelum akad nikah.

Di sana saya terhenyak karena seorang guru yang saya pikir tidak mengenal saya tiba-tiba menelepon malam-malam dan kaget mengetahui saya telah boyong lantaran saya tidak sempat pamit.

Di sana saya dianugerahi seorang guru yang hadir tanpa saya duga untuk membimbing di tengah-tengah kontraksi menuju persalinan.

Di sana saya dibuat berdesir oleh para guru yang menyampaikan maaf terlebih dulu di hari raya.

Di sana saya mendengar tutur halus para guru yang sabar menghadapi kebebalan saya.

Di sana saya dikuatkan oleh guru-guru yang mempercayai saya lebih dari diri saya sendiri.

***

Saya kira saya orang yang cukup realistis dan materialistis. Sulit bagi saya untuk percaya berkah, karamah, sampai saya merasakannya sendiri. Pada akhirnya saya jatuh cinta karena melihat teladan, akhlak mulia yang dipraktikkan secara konsisten.

Kalau ditanya apa yang saya bawa dari Krapyak setelah sekian lama, jawabannya, secuil ilmu pun tidak, akhlak pun masih jauh dari baik. Yang pasti saya punya hanyalah cinta. Cinta yang saya dapat dengan ongkos yang mahal: waktu yang tidak sebentar dengan berbagai proses jatuh bangun. Cinta yang dengannya saya harap dapat luberan welas asih dari Gusti Allah.

Jauh dalam hati, cinta itu ingin saya manifestasikan dengan lebih baik, dengan berupaya menimba sumur ilmu dan mereplikasi teladan akhlak meski terseok-seok.

Hari ini, sebagai seorang pencinta, saya tak punya alasan untuk tidak bersedih mendengar kabar duka dari Krapyak. Hari ini membuat saya mengingat hari-hari sebelumnya saat isak tangis dan kesedihan begitu kental terasa ketika guru-guru Krapyak kondur. Saat KH. A. Warson Munawwir tindak sesaat sebelum perhelatan besar haul, lalu disusul KH. Zainal Abidin Munawwir tepat saat bencana alam melanda, kemudian pencinta shalawat Gus Rifqi Ali atau Gus Kelik sehari sebelum siding skripsi saya, hingga KH. Hafidz Abdul Qodir beberapa tahun silam. Hari ini awan mendung itu menggelayut lagi.

Wabakdu, semoga Allah senantiasa melindungi guru-guru dan seluruh keluarga besar pondok Krapyak. Saya bersaksi beliau-beliau adalah orang-orang baik, orang-orang yang membuat saya merasakan indahnya welas asih.

Sooko, 13 November 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *