Resensi Buku, “Ulama Bercanda, Santri Tertawa”, Hamzah Sahal

“Ulama Bercanda Santri Tertawa”

Judul Buku : Ulama Bercanda, Santri Tertawa 
Penulis : Hamzah Sahal 
Penerbit : Tanda Baca
Tahun Terbit : 2019 
Tebal : xiii + 112 halaman

Belum lama ini humor Gus Dur soal tiga polisi jujur viral. Seorang pria di Maluku Utara yang kedapatan menulis canda lawas itu di dinding Facebook-nya harus berhadapan dengan polisi. “Bukan ditangkap,” kilah Kapolres Kepulauan Sula, “hanya diminta klarifikasi saja apa motif dia.” Efek “klarifikasi” itu, Ismail Ahmad si penulis status dikenai wajib lapor dua hari sampai akhirnya ia menyampaikan permintaan maaf yang menuai banjir kritik netizen terhadap kepolisian.

Syahdan, pada 2008, Gus Dur, presiden keempat RI itu pernah menyatakan, “Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng.” Jenderal Hoegeng adalah Kapolri kelima RI yang terkenal atas dedikasinya. Rupanya, hingga lebih dari satu dekade kemudian, lelucon sarat kritik itu masih mengusik. Hal ini menegaskan, humor yang kerap dianggap sebelah mata atau hanya pencair suasana belaka, bisa punya daya hantam yang kuat.

Tidak hanya Gus Dur, banyak para ulama yang menggunakan humor untuk menyampaikan pesannya. Hamzah Sahal dalam buku “Ulama Bercanda Santri Tertawa” menuliskan, di kalangan pesantren dan NU, humor bahkan berfungsi sebagai dalil atau argumentasi. Sebab menjadi dalil, mereka (para ulama) memainkan humor dengan serius, bukan cuma iseng. (hal. v)

Simak saja beberapa di antaranya:

KH Wahab Hasbullah, aktivis pergerakan yang juga pendiri NU, dikenal ahli melempar plesetan. Suatu hari, ketika Nusantara masih berada dalam cengkeraman Belanda, Kiai Wahab berpidato di hadapan kiai-kiai dan ratusan santri,

“Jangan sekali-kali terbersit, apalagi bercita-cita sebagai ambtenaar (pegawai)! Karena ambtenaar itu singkatan dari ‘antum fin nar’ (kalian di neraka).” (hal. 53)

Plesetan ambtenaar menegaskan keseriusan sikap anti-kolonialisme Kiai Wahab. Ucapan itu bukan sekedar otak atik bahasa sebab nyatanya sejak menimba ilmu di Mekkah mulai 1913 beliau sudah memiliki cita-cita besar untuk berkontribusi meraih kemerdekaan Indonesia. Sepulang ke tanah air, cita-cita itu direalisasikannya dengan mendirikan madrasah dengan penekanan nilai nasionalisme bernama Nahdlatul Wathon atau ‘kebangkitan bangsa’. Beliau bersama para kiai lainnya juga menghimpun petani dan pengusaha kecil demi mendirikan Nahdlatut Tujjar atau ‘kebangkitan saudagar’ sebagai perlawanan atas distribusi ekonomi yang timpang lantaran penguasaan asing.

Di lain kesempatan, saat penjajahan Jepang, Kiai Wahab mengajak para kiai lainnya untuk menjadi anggota Jawa Hokokai, semacam perhimpunan rakyat untuk mendukung Jepang. Ulama yang dianugerahi gelar pahlawan nasional itu menyebut kepanjangan Jawa Hokokai sebagai ‘Jawa Haqqu Kiai’ atau Jawa milik kiai. (hal. 54) Lewat plesetan ini, Kiai Wahab mengajak para kiai melakukan strategi politik dengan Jepang untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya yaitu kemerdekaan Indonesia.

KH. Ahmad Warson Munawwir dari Krapyak, Yogyakarta, punya kelas humornya sendiri. Dalam suatu forum ulama di Jawa Timur, Kiai Warson pernah berbisik kepada Alwi Shihab, “Sini Pak, duduk sama saya saja. Poligami itu nular,” sambil diiringi derai tawa. (hal. 69)

Di forum itu memang hadir sejumlah kiai yang melakukan poligami. Candaan ‘takut ketularan poligami’ sesungguhnya adalah bentuk sikap pro Kiai Warson terhadap pernikahan monogami yang disampaikan dengan cara jenaka.

Humor sebagai Metode Ilmiah

Ketika aksi pengeboman merebak dan meresahkan masyarakat dunia sejak peristiwa 9/11, banyak para sarjana mencari cara untuk menangkal narasi terorisme. H. L. Goodall (2012) berpendapat, jokes bisa menjadi alat ampuh untuk melakukan kontra-narasi terorisme. Bahasa yang menarik, gambar yang mengundang tawa, dapat mendelegitimasi argumen-argumen umum pelaku terorisme.

Hal itulah yang persis dilakukan KH. Anwar Zahid saat merespon aksi pengeboman beruntun tiga gereja di Surabaya 2018 silam. Dalam video ceramahnya yang viral, kiai yang gemar melempar guyon dengan bahasa Jawa ini menyangkal argumen pelaku teroris yang berjihad demi mendapat ganjaran bidadari di surga. “Bidadari kucluk (bodoh, konyol)!” Video ini disukai oleh ratusan ribu orang termasuk umat non-Islam.

Sejatinya, para kiai sudah mempraktikkan humor sebagai sebuah metode yang ilmiah. Mereka tidak melontarkan humor dengan asal-asalan namun didasari keilmuan yang mumpuni dan tidak tercerabut dari konteks. Ilmu-ilmu itu diperas lalu saripatinya disuguhkan kepada umat dengan cara yang renyah. Kita diajak menghikmati agama dengan otot yang rileks dan gembira. Ulama pesantren tidak pernah mengajak umat mengencangkan otot syarafnya untuk berteriak takbir tapi bermaksud merundung orang lain.

Buku ini adalah bacaan segar yang bisa dilahap dalam sekali duduk. Membaca lima puluh humor khas pesantren yang disajikan, pembaca tidak saja bisa tertawa tapi juga memetik pelajaran dari anekdot-anekdot para kiai dan santri.

*pertama diunggah di www.tsaqafah.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *