Resensi Buku “Berislam Seperti Kanak-kanak”, Kalis Mardiasih

“Berislam Seperti Kanak-kanak”

Judul Buku : Berislam Seperti Kanak-kanak 
Penulis : Kalis Mardiasih 
Penerbit : Yayasan Islam Cinta Indonesia 
Tahun Terbit : 2018 
Tebal : 200 halaman.

“Betapa rindu saya pada masa kanak-kanak yang penuh tawa. Andai orang dewasa bisa selalu beragama seperti kanak-kanak, membebaskan perasaan dari curiga dan sakit hati.”

Belakangan menjadi muslim terasa semakin ruwet dan penuh ketegangan. Keruwetan itu antara lain disumbang oleh banyaknya broadcast, meme, dan segala konten di media sosial yang mudah mengharamkan sesuatu. Masih ingat meme klepon yang kurang Islami?

Sementara itu, ketegangan mencapai puncaknya saat berbagai intrik politik menyeret isu agama ke arena kontestasi. Terciptanya kubu-kubu membuat umat muslim jadi eksklusif, tak mau bergaul dengan yang berbeda, serta mudah mengkafirkan satu sama lain. Lagi-lagi, media sosial membawa pengaruh penting.

Pada 2016, riset International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dan jaringan GUSDURian menemukan ada kurang lebih 90 ribu akun yang aktif menyebarkan kata kunci “kafir”, “sesat”, “pengkhianat agama”, “musuh Islam”, dan sejenisnya di berbagai platform media sosial.

Agaknya kita perlu mengambil jeda sejenak dari media sosial dan merenungkan kembali makna menjadi muslim. Buku “Berislam Seperti Kanak-kanak” karya Kalis Mardiasih adalah teman yang cocok untuk memanggil ulang imaji Islam yang ramah alih-alih Islam yang marah-marah. Di buku ini Kalis menyajikan puluhan esai tentang Islam yang tidak dipandang dengan kacamata hitam dan putih. Melainkan kacamata penuh warna, seperti kehidupan anak-anak.

Prof. Azyumardi Azra sebagaimana dikutip Kalis dalam buku ini menyatakan, Islam Nusantara memanglah Islam yang berbunga-bunga (flowery Islam). Di Indonesia, sejatinya secara turun temurun Islam dirayakan dengan semarak sekaligus dihikmati secara luwes.

Muslim Indonesia akrab dengan puji-pujian sebagai bentuk ungkapan cinta pada Allah dan rasulnya sekaligus bertegur sapa kepada sesama lewat berbagai ritual yang telah mapan. Di tengah hiruk pikuk Islam politik di perkotaan yang lantang menyerukan penegakan syariat Islam, melalui buku ini Kalis menunjukkan potret Islam yang damai dan syahdu dari pinggiran.

Baca Juga: Takwa Inovatif, Jalan Milenial Menggerus Radikalisme Agama

Islam yang Tidak Menyeramkan

Dalam esai “Anak-anak Tidak Marah” Kalis melempar memorinya jauh ke belakang untuk mengingat betapa agama di masa kanak-kanaknya tidak semenyeramkan sekarang. Ia dan kawan-kawannya sering memanggil guru ngaji di kampungnya dengan sebutan “Pak Jenggot Naga” karena hobinya mengelus jenggot yang super panjang. Kadang-kadang, Pak Guru juga diledek dengan sebutan “wedhus gibas” karena jenggotnya disamakan dengan jenggot salah satu jenis kambing. Namun mereka tidak dianggap menista sunah atau mengajukan ujaran kebencian pada ulama. Beda dengan hari ini saat umat Islam begitu sensitif ketika agamanya disenggol.

Esai menarik lainnya berjudul “Pak Wanto, Nurul, dan Pesta Tahun Baru.” Menjelang malam tahun baru kini banyak muncul pesan berantai yang menyatakan keharaman perayaannya karena berbagai alasan seperti hari raya orang kafir, mubazir, atau menyerupai kaum Majusi yang menyembah api. Tapi di satu titik di kampung, Kalis menceritakan soal Pak Wanto yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan harus menghidupi Nurul, seorang anak berkebutuhan khusus yang ia adopsi belasan tahun lalu.

Di suatu malam tahun baru Pak Wanto menjajakan terompet demi mengais rezeki untuk kelangsungan hidupnya dan Nurul. Kisah Pak Wanto dan Nurul barangkali tidak pernah terbersit dalam bayangan kelompok Islamis perkotaan yang getol menyebar pamflet haram. Sejumlah pengkhotbah berdoa supaya turun hujan lebat hingga perayaan tahun baru batal. Namun, atas kehendak Allah malam itu Pak Wanto tetap bisa berjualan dan pulang sebelum tengah malam untuk menggendong Nurul demi menyaksikan kembang api. Serpihan kisah ini mengajak kita bersikap lebih adil dengan meluaskan sudut pandang sehingga tidak serta merta latah mengutuk segala sesuatu yang dianggap haram.

Masih banyak lagi esai-esai Kalis yang menampilkan Islam dengan wajah kemanusiaannya. Dengan bahasa yang renyah namun tajam, buku ini cocok dibaca oleh anak-anak muda untuk lebih peka melihat reallitas keberislaman di lingkungannya, sekaligus waspada terhadap tebaran pesan-pesan intoleran di dunia maya.

Buku ini dapat diunduh di conveyindonesia

*pertama diunggah di www.tsaqafah.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *