Perjalanan Berjilbab Belasan Tahun dan Kenapa Saya Nyaman-nyaman Aja Tuh

khalimatunisa.com
Saya dan Jilbab Saat Balita

Tulisan ini dibuat setelah membaca sebuah artikel tentang renungan seorang pemakai jilbab di hari ulang tahunnya. Selain mau berbagi perspektif, tulisan ini bolehlah dianggap sebagai hadiah ulang tahun yang priceless buat dia. 

Saya mengetik ini sejam sebelum tengah malam saat toddler sudah lelap dengan sedikit mangap. Bagi seorang ibu, waktu-waktu seperti ini menghantarkan banyak pilihan: antara ikut bobok, me time dulu update kabar artis Korea idola, maskeran sambil memantau dinamika politik dalam dan luar negeri via timeline Twitter, atau kelon sama si bapak. Kenyataan bahwa saya memilih menulis ini berarti banyak hal yang saya korbankan. Jadi, mohon dibaca dengan saksama.

Saya lupa kapan saya pertama kali berjilbab. Namun ada satu foto bertarikh 1994 -yang berarti saya berusia kurang dari dua tahun, di mana saya mengenakan jilbab sembari tersenyum riang duduk di belakang dampar. Itu foto saat saya ikut Ibu mengajar TPQ di rumah simbah pada zamannya. Kalau dipikir-pikir lagi hebat juga ya Ibu, setelah ngajar di sekolah pagi sampai siang, sorenya masih sempat mulang ngaji sambil momong saya yang masih batita. Mulang ngaji sambil momong tentu merepotkan, tapi alasan Ibu mengajak saya alih-alih menitipkan pada simbah atau adik-adinya pasti karena berharap saya dapat vibes-nya anak-anak mengaji. Saya tentu belum bisa merasakan saat itu, tapi melihat foto itu kini, saya bersyukur tumbuh di lingkungan yang baik, lingkungan pembelajar, saat kanak-kanak dulu. It’s such a privilege.

Sekarang, anak perempuan saya, Azda, usianya juga menuju dua tahun dan sedang gemas-gemasnya kalau dipakaikan jilbab. Apalagi dia gundul, alias rambutnya belum banyak, jadi makin cantik kalau dipakaikan jilbab. Kadang saya sengaja memakaikan dia jilbab biar tidak terkena body shamming atas rambutnya yang masih jarang-jarang. Atau kadang ketika saya malas menjawab pertanyaan “Anaknya cewek apa cowok?” lantaran dia tidak saya tindik karena alasan body consent, saya pakaikan jilbab aja ben ra do kakean takon. Jangan-jangan menindik lebih bermasalah daripada menjilbabi balita? Bisa jadi. Jilbab bisa dilepas kapan saja jika dia ingin, tapi lubang di telinga permanen. Wah, kalau nanti Azda tumbuh jadi aktivis gender bisa-bisa saya dikecam karena melubangi telinganya tanpa consent, seperti penulis artikel ini menggugat orang tuanya. Anyway, saya sudah kepikiran merekonstruksi foto lawas itu -meskipun saya nggak ngajar TPQ karena corona dan karena mager, sayangnya belum kesampaian. 

Saat TK, saya berjilbab karena tuntutan peraturan seragam sekolah meski tak tiap hari. Di penghujung era Orde Baru, TK yang berlabel Islam macam “Bustanul Athfal Al-Jannah” almamater saya itu masih membolehkan siswi-siswi tanpa jilbab, seragamnya nggak melulu brukut dari ujung kepala sampai mata kaki. Ibu memasukkan saya ke TK itu setidaknya karena tiga alasan. Pertama, jaraknya dekat dari rumah. Kedua, ada bulik saya yang jadi guru di sana sehingga bisa “dititipi” lantaran ibu yang bekerja tak bisa menunggui saya sekolah. Dan ketiga, fasilitas serta proses pembelajarannya dinilai unggul ketimbang TK TK lain di sekitar. Alasan-alasan yang bisa diterima dan sangat masuk akal.

Lulus TK saya melanjutkan sekolah di SD sekuler. Tipikal SD negeri milik pemerintah yang tidak berbasis agama. Praktis, jilbab sebagai identitas keislaman saya tanggalkan. Saat itu aturan busana muslim di sekolah umum belum berlaku. Sayang sekali hal itu jadi marak sekarang.

Ibu memasukkan saya ke sana karena dua alasan. Pertama, simply karena dekat dengan tempat kerjanya. Kedua, tergolong sebagai SD favorit dengan ekskul drumband yang langka pada zamannya. Lagi-lagi, alasan yang rasional. Untuk bisa masuk SD itu calon siswa harus melalui seleksi. Pun supaya bisa ikut tim drumband harus ranking 10 besar. Sebagai murid yang pernah ikut karnaval dengan seragam drumband bagian “senar”, bangga dong saya. Meski kalau ditanya sekarang, saya kurang setuju dengan sistem pendidikan kompetitif-libertarian begitu.

Menginjak kelas enam SD saya mulai meniatkan diri untuk berjilbab saat SMP kelak. Dan benar saja, saya betul-betul mulai serius berjilbab, atas pilihan saya sendiri. Itu terjadi tahun 2005 dan sejak saat itu sampai sekarang selembar kain itu masih melekat di kepala saya saat berada di ruang publik atau di hadapan non-mahram. Di sinilah cerita dimulai.

Jilbab dan Segala “Kontradiksi”-nya

Sebelumnya saya bilang saya berjilbab atas pilihan sendiri. Tapi apa benar begitu? Tunggu dulu. Saat masuk SMP saya belum baligh apalagi aqil alias berakal. Mengambil keputusan tentu masih dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Syahdan, seorang bulik mengiming-imingi akan membelikan saya jilbab jika saya mau berjilbab. Baginya, jilbab adalah pakaian ideologis seorang muslim, simbol keanggunan, serta  mekanisme penjagaan diri dari maksiat yang paripurna. Ia adalah seorang mahasiswi yang telah bergabung pada kelompok kajian Tarbiyah atau mentoring yang kemudian meningkat jadi liqo’ sejak SMA. Dia adalah bagian dari gelombang revolusi jilbab Jilid I sebagai imbas kebijakan politik Orde Baru di akhir 1990-an yang mulai melunak terhadap kelompok Islam setelah sebelumnya terus merepresi. Bulik saya itu termasuk golongan awal yang memakai jilbab setelah larangan pakai jilbab di institusi pendidikan dicabut. Menurut Yuswohady (2016) kelak revolusi jilbab Jilid II akan terjadi saat komunitas hijabers menjamur. Orang-orang mulai menyebut jilbab menjadi hijab, yang diasosiakan sebagai busana yang modis nan stylish (apa bedanya?). Munculnya gerakan hijrah juga melahirkan gelombang orang-orang berjilbab di kemudian hari.

Seperti kata penulis artikel ini bahwa indoktrinasi mudah dilakukan saat target belum mengetahui apa-apa, saya pun terindoktrinasi saat itu. Saya sukses berjilbab dan mendapat reward dua helai kerudung Rabbani. Tidak hanya jilbab, saya getol membaca majalah An-Nida yang diilustrasikan dengan sosok berjilbab panjang menjuntai, membaca buletin dakwah Tarbiyah yang nyaring menyuarakan anti pacaran (sampai sempat jadi distributornya di sekolah), mendengarkan nasyid, mengidolakan kakak kelas dengan jilbab terlebar di sekolah, sampai bikine-mail pertama dengan kata kunci jannah. Karena menurut bulik saya saat itu, surga adalah orientasi utama, jannah adalah koentji.

Bapak saya yang NU tulen bahkan fanatik sempat menentang keputusan saya berjilbab –termasuk nanti ketika saya memutuskan ikut mentoring hingga liqo’ saat SMA. Menurutnya pakai jilbab nggak esensial amat. Beliau khawatir justru jilbab jadi produk ideologi Islamis. Saat itu beliau sudah sadar betul pergerakan kelompok Islamis di kampus-kampus yang ternyata memang dibenarkan oleh sejumlah jurnal yang saya baca jauh bertahun-tahun kemudian. Akhir 1990-an sejumlah scholars berhaluan tarbawi, salafi, tahriri, hingga jihadi dari Timur Tengah mulai melakukan ekspansi dakwah di kampus-kampus yang dimulai dari Masjid Salman ITB. Hal ini turut didukung oleh kebijakan NKK-BKK Orde Baru saat itu yang menjauhkan kampus dari aktivisme politik dan kemudian justru jadi panggung para Islamis. Buat Bapak saya saat itu, sing penting ki sholat. Saat itu saya menggadang-gadang pakai jilbab tapi sholat subuh masih kawanen dan kadang keturon sampe nggak Isya-an. Kontradiktif bukan?

Masuk ke pembahasan soal kontradiksi. Agaknya “semua” orang sepakat bahwa jilbab adalah lambang kesalehan. Kalau kata penulis artikel ini, orang akan tahu ibadah model apa yang saya lakukan hanya dari jilbab saya. Citra jilbab ini mengusik saya sejak lama, sejak belia, lantaran saya menjalani kehidupan yang banyak kontradiksinya.

Sebagai anak kandung revolusi jilbab Jilid I, jumlah siswi berjilbab di sekolah masih sangat minim. Bahkan di kelas, hanya saya satu-satunya yang berjilbab. Satu angkatan, jumlah siswi berjilbab cukup dihitung dengan sepuluh jari. Tak ayal, dianggap paling solehah dan paling ngerti agama adalah makanan saya sehari-hari. Saya dijadikan Seksi Agama di kelas yang kerjaannya ngabsen orang-orang shalat dhuha dan shalat jamaah. Guru Agama pernah menyuruh saya berdiri di hadapan teman-teman se-angkatan untuk menunjukkan contoh pakaian yang paling benar dalam Islam. Entah berapa orang yang manggil saya dengan panggilan Bu Hajjah. Sering juga saya ditegur kalau ada tingkah saya yang dianggap kurang solehah dengan kata-kata semacam, “Ih, Bu Hajjah kok gitu.” Apakah saya nyaman saat itu?

Jawabannya tidak. Karena ternyata saya seperti remaja kebanyakan yang sedang galau mencari jati diri dan eksistensi. Ada banyak gejolak yang membenturkan saya dengan citra jilbab yang saya kenakan. Saya yang pemalas ini sering terlambat datang ke sekolah hingga kerap diceramahi guru BK. Bahkan saya sempat ngumpet di toilet menunggu satu jam mata pelajaran berlalu, menitipkan tas ke wartel depan sekolah biar nggak ketahuan telat, sampai bolos karena gerbang ditutup dan lalu ketahuan Ibu karena teman sekelas yang juga tetangga tanya basa-basi saat bertemu Ibu di warung, “Nisa sehat, Bu, kok tadi nggak masuk?”. Saya juga pernah dipanggil guru BK gara-gara aduan ibu saya kalau saya minggat dari rumah setelah terlibat cek-cok dengannya. Saya nge-gank dengan ciwi-ciwi urakan yang tidak pakai jilbab dan bikin band meski kemampuan bermusik nol hanya demi eksistensi dan dianggap keren. Bersama mereka saya sering nongkrong di warnet dan mencoba chatting dengan mahasiswa-mahasiswa yang memperkenalkan istilah saru lewat aplikasi MIRC.

Kebingungan identitas itu berlanjut sampai SMA. Meskipun saya lelah menghadapi kontradiksi antara sikap dan jilbab toh saya tetap pakai jilbab. Selain tentu saja karena takut dicibir kalau melepasnya, jauh dalam hati saya nyaman berjilbab untuk menutupi badan saya yang kurus. Sedari kecil saya terlalu sering menerima body shamming karena bentuk badan ini.

Di SMA lebih banyak teman yang mengenakan jilbab. Saya yang masih berusaha memenuhi ekspektasi orang-orang terhadap kaum berjilbab memutuskan ikut Rohis, selain klub jurnalistik yang jadi minat utama saya. Lingkungan Rohis tak terlalu nyaman buat saya lantaran memberi banyak batasan. Saya justru lebih bahagia berkumpul dengan teman-teman di kelas IPS yang lagi-lagi, urakan.

Di saat yang sama saya berkenalan dengan Sartre, Nietzsche, Kierkergaard dan lain-lain lewat buku Berkenalan dengan Eksistensialisme-nya Fuad Hassan yang saya ambil diam-diam dari perpus sekolah. Tidak ada seorang pun tercatat pernah meminjam buku itu. Jadi, mencurinya saya anggap bukan masalah besar. Membaca eksistensialisme membuat saya overthinking kalau kata anak sekarang. Hal itu menggiring saya membuat eksperimen tidak sholat selama beberapa minggu. Meskipun pada akhirnya saya berkesimpulan saya masih butuh sholat dan menghadirkan The Supreme Being dalam kehidupan saya, terutama untuk menghadapi UN dan seleksi masuk PTN. Pengalaman ini adalah kontradiksi saya dengan jilbab yang belum pernah saya buka pada siapapun.

khalimatunisa.com
Foto editan yang saya buat setelah baca buku eksistensialismenya Fuad Hassan

Saat itu pula saya yang mulai sadar peta kelompok-kelompok Islam ingin melanjutkan mentoring yang sebelumnya saya ikuti bersama alumni di masjid sekolah ke level liqo’ di masjid luar sekolah dengan alasan observasi partisipatori. Namun hal itu ditolak keras oleh orang tua saya, terutama Bapak, karena khawatir saya akan menjadi kader PKS. Orang tua yang muntab sempat datang ke sekolah menanyakan legalitas mentoring sambil mengawasi kegiatan-kegiatan saya dengan lebih ketat.

Saat SMA saya juga bergabung dengan komunitas literasi di luar sekolah yang mengantarkan saya mengenal teman-teman pesantren. Di sana saya mengenal wajah lain Islam di samping wajah Islam perkotaan yang mendominasi hidup saya sebelumnya. Saya mengenal teman-teman yang berjilbab, bersarung, menguasai khazanah keilmuan Islam yang luas, sekaligus punya daftar panjang bacaan buku-buku “umum” mulai dari sastra, politik, hingga filsafat. Mereka juga inklusif –berteman dengan siapa saja, ekspresif -seperti menulis dan membaca puisi rayuan cinta untuk seseorang yang ditaksirnya. Mereka menjalani kehidupan sesuai usianya. Jilbab dan sarung jadi punya makna lain buat saya. Sejak saat itu pesantren mulai memikat saya.

Saya dengan jilbab di kepala yang diasosiasikan ngerti agama padahal tidak pernah berguru pada siapapun akhirnya masuk pesantren. Di pesantren jilbab adalah pakaian wajib tapi tidak jarang jilbab hanya dipakai sekenanya. Di pesantren saya mengenal hakikat ilmu, sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh sekolah-sekolah favorit almamater saya. Pesantren mengajarkan saya bahwa kedalaman ilmu lebih bermakna ketimbang citra kesalehan. Dengan jilbab di kepala, di pesantren saya bertemu guru-guru yang welas asih, yang kesalehannya mewujud dalam teladan setiap hari, sesuatu yang melampaui ukuran kesalehan lewat busana dan slogan-slogan yang digembar-gemborkan komunitas hijrah hari-hari ini. Pesantren, meskipun homogen, mengajarkan saya melihat segala sesuatu tidak dalam oposisi biner seperti mengenakan jilbab kemudian merasa jadi yang paling benar. Jilbab juga mempertemukan saya dengan teman-teman santriwati yang bersahaja dan bersahabat. Di titik ini saya justru ingin berterima kasih pada jilbab karena dengannya saya jadi lebih mudah mengakses komunitas ini.

Dari pesantren pula akhirnya saya menemukan lelaki bersarung dengan kesamaan visi, bangga mengenakan sarung dan jilbab sebagai warisan tradisi tanpa kemudian menjadikannya ukuran kemuliaan. Kami bangga memakai sarung, peci, dan jilbab sebagai penanda bagian dari komunitas pesantren yang mengajarkan cara berislam dengan gembira. Sekali lagi, jilbab membawa berkah buat hidup saya.

Sekarang, kalau mengingat lagi ke belakang saya tidak lagi insecure melihat masa muda yang kontradiktif dengan jilbab di kepala. Saya justru bangga karena saat itu saya melawan stereotipe dengan menunjukkan bahwa seorang berjilbab bisa berteman dengan siapa saja, dengan mereka yang urakan dan dicap nakal. Saya dan sikap kontradiktif saya ternyata berfungsi mengingatkan orang-orang bahwa, di balik selembar kain itu toh yang ditutupi masih kepala manusia dan perilaku manusiawi-nya. Saya resmi berhenti melihat diri saya sebagai bidadari yang anggun nan solehah karena berjilbab. Saya menerima jilbab saya dan segala ketidaksempurnaan diri saya.

Saya juga tidak marah pada orang tua saya yang menjilbabi saya sejak balita. Saya tahu beliau hanya ingin anak-anaknya solehah, seperti orang tua pada umumnya, meskipun hanya bisa mewujudkannya lewat simbol. Saya tahu orang tua saya memasukkan saya ke TK Islam dengan seragam yang ada jilbabnya karena mereka tak punya banyak pilihan. Sebagai ibu bekerja dengan suami yang tidak terlibat dalam urusan domestik dan pengasuhan seperti Ibu saya, pilihan-pilihannya lebih bersifat pragmatis. Kalau saja dia punya sumberdaya yang lebih, mungkin saya akan disekolahkan di TK Pertiwi yang masyhur kualitasnya di kota. Mungkin juga penulis artikel ini akan dimasukkan ke SD unggulan supaya bisa masuk SMP unggulan pula. Tapi Sekolah Islam Terpadu menawarkan program full-time yang menarik bagi ibu saya karena dia bisa menjemput anaknya berbarengan dengan jam pulang kantor dan dengan demikian tidak perlu lagi membayar ART. Anak itu juga tidak perlu pulang naik angkot seperti yang saya lakukan sejak kelas tiga SD.

Jika penulis artikel ini mau membaca sedikit lebih banyak, dia akan paham bagaimana pasca Orde Baru label komodifikasi Islam makin gencar termasuk dalam sektor pendidikan sehingga bermunculan sekolah-sekolah Islam Terpadu yang berhasil mengambil hati orang-orang Islam perkotaan awam seperti ibu saya. Perkara jilbab di kepala sejak balita bukan hanya perkara orang tua memaksakan kehendak tetapi ada konteks ekonomi politik yang merasionalisasi tindakan itu.

Saya juga bisa memaklumi bulik saya yang mengindoktrinasi saya, karena dia hanyalah satu dari sekian banyak orang yang juga terindoktrinasi oleh kelompok dakwah Islamis. Saya akan tetap menganggapnya saudara. Bahkan saya berterima kasih karena atas upayanya berdakwah, saya jadi membuktikan sendiri bahwa Islam itu tidak monolitik.  

Pada akhirnya saya memaknai jilbab lebih sebagai pakaian dan identitas kultural. Ketika saya tidak bisa memenuhi standar kesalehan orang-orang atas jilbab yang saya kenakan, saya tidak akan membuang waktu untuk merasa bersalah sampai overthinking di malam ulang tahun saya. Alih-alih menyalahkan jilbab, saya lebih menggugat kepala orang-orang esensialis yang kurang piknik itu. Meskipun nggak perlu sampai memaki-maki juga. All in all, saya punya interpretasi saya sendiri akan jilbab saya dan saya nyaman memakai sekaligus bertumbuh bersamanya.

Baca tulisan lain soal jilbab di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *