Resensi Buku “Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali”, Puthut EA

“Seekor Bebek…”
dok. pribadi

Judul Buku                          : Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali
Penulis                                 : Puthut EA
Penerbit                              : Mojok
Tahun Terbit                      : 2016
Jumlah Halaman               : 177 halaman
Peresensi                            : Khalimatu Nisa

Antologi Seekor Bebek berisi 15 cerpen karya Puthut EA yang memukau. Ia memukau karena kesederhanaannya sekaligus ketajamannya dalam menguliti isu-isu sosial.

Cerpen-cerpen Puthut tidak dituturkan dengan bahasa yang berbelit-belit dan bersayap. Struktur kalimatnya sederhana, ada diksi-diksi yang unik dan menarik namun tak lantas penuh dengan jargon. Pembaca bisa dengan mudah melahap halaman demi halaman.

Karena kesederhanaannya itulah, Puthut bisa mengeksekusi sudut pandang anak-anak dengan sangat baik. Beberapa cerpen dalam kumpulan ini memang menggunakan sudut pandang anak-anak seperti “Doa yang Menakutkan” dan “Di Sini Dingin Sekali”. Keluguan cara berpikir anak-anak dalam menghadapi situasi krisis  terasa sangat pas dituturkan oleh Puthut. Poin ini menjadi keunggulan Puthut dibanding misalnya, “Dari Hari ke Hari” karya Mahbub Djunaidi yang juga menggunakan perspektif anak-anak namun terkadang masih terasa terlalu dewasa.

Meski sederhana dalam bahasa, kelimabelas cerpen-cerpen ini memuat isu-isu yang tidak sederhana, bukan remeh temeh. Struktur sosial yang timpang menjadi kritik utama Puthut yang disuarakan melalui cerpen-cerpennya. Ia mengangkat suara-suara lirih yang pernah (dan mungkin masih) dibungkam penguasa atas pergolakan 1965. Ia memperlihatkan pincangnya kemanusiaan lewat aksi perusakan rumah ibadah dan pengusiran jemaat minoritas. Ia menampilkan krisis multidimensi sebagai efek dari bencana alam yang jarang mendapat perhatian. Ia juga menunjukkan wajah kelas menengah yang mencoba mengambil jarak dari problem perkotaan.

Dari berbagai tema itu, isu 1965 mendapat porsi terbanyak. Tragedi 1965 dikisahkan melalui penyamaran buku-buku terlarang dengan sampul resep masakan, rahasia telinga sastrawan besar yang konon rusak karena dipopor oleh tentara, misteri rumah kosong berhantu peninggalan “komunis”, penuturan tahanan perempuan tentang bagaimana mereka berikut anak-anak tak berdosa dinistakan dalam penjara, hingga pedagang nasi goreng legendaris yang hilang bersama seluruh warga dusunnya karena disinyalir komunis. Dari sekian cerita itu, cerpen “Retakan Kisah” menjadi yang paling getir karena Puthut mengisahkan adegan kekerasan terhadap tahanan perempuan dengan sangat gamblang.

Meski tidak ditulis pada era Orde Baru, cerpen-cerpen Puthut menjadi ejawantah dari adagium Seno Gumira Ajidarma, “ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara”, bagaimana sastra mengungkap dinamika sosial dengan caranya sendiri. Jurnalisme memang telah mendapatkan ruang bebasnya pada 2006-2008 ketika tulisan ini dibuat. Riset mengenai chaos 1965 juga telah banyak diproduksi. Namun melalui sastra, Puthut membicarakan isu 1965 dengan sensasi yang menyentuh ulu hati, menyenggol kemanusiaan dengan lebih keras.

Tidak berlebihan jika Aan Mansyur dalam epilog di antologi ini menyebut Puthut sebagai sastrawan intelektual. Ketika banyak karya sastra kekinian lebih mementingkan kemasan atau gaya, Puthut mengajak pembaca fokus pada substansi, begitu kurang lebih kata Aan. Namun, meski berangkat dari fakta, data-data tidak kemudian dijembreng bagai diktat kuliah oleh Puthut. Ia juga tidak terkesan menggurui. Karyanya tetaplah sastra yang mana ia berhasil membuatnya “bersuara”.

Cerpen “Doa yang Menakutkan” menjadi favorit saya dalam kumpulan ini. Ia menceritakan trauma seorang anak kecil dari kelompok Islam non-ortodoks pasca penyerangan rumah ibadah dan pengusiran warga kampungnya. Para penyerang meneriakkan doa yang sama dengan yang dirapalkannya tiap hari sehingga membuat ia enggan membaca doa tersebut. Peristiwa itu juga memunculkan gugatan-gugatan kecil tentang toleransi dalam benaknya. Cerita yang subtil sekaligus menggerus.

Secara teknis masih ada beberapa kesalahan penulisan dalam naskah ini, seperti typo, kata yang hilang, dan nama tokoh yang terbalik. Namun hal itu tidak terlalu mengganggu. Kekurangan lainnya adalah tidak adanya biodata pengarang yang bisa menggiring pembaca untuk lebih jauh mengenal sang penulis berikut karyanya. Adapun kekurangan terbesar karya ini adalah bahwa ini merupakan karya fiksi terakhir Puthut. Dengan kemampuan penulisan fiksi sekaliber Puthut sangat wajar jika pembaca akan terus menunggu kelahiran karya-karya fiksinya yang lain. Sebab sastra yang “bicara” adalah suatu kebutuhan.

*pertama diunggah di www.perempuanmembaca.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *