Hidup Terencana vs Hidup Tidak Terencana

source: nature.desktopnexus.com

Percakapan atau diskusi antara aku dan suami kerap terjadi dalam sebuah perjalanan, demi meramaikan suasana. Selama dia menyetir, biasanya aku mulai meracau tentang banyak hal.

Akhir-akhir ini suami sedang getol-getolnya memantau bursa efek, mengamati naik turunnya harga saham perusahaan A, B, C, serta memberi analisis soal kemungkinan republik ini mengalami resesi ekonomi. Gayanya udah macam pakar ekonomi makro. Melihat ketelatenannya pada angka-angka, termasuk soal cashflow rumah tangga kami selama ini, siang itu, dalam perjalanan menuju sebuah kantor pemerintah, aku pun iseng bertanya,

“Mas, kamu ini seneng Matematika, kenapa waktu Aliyah masuk IPS?”

“Kalah voting.”

Maksude?”

“Ya dulu murid sekelas cuma lima belas orang ngapain bikin dua jurusan, jadi dibikin voting. Yang milih IPA cuma 7 orang, kalah.”

“Jadi aslinya kamu milih IPA tapi kesasar ke IPS?”

“Ya.”

Aku tergelak.

Tapi sebenarnya hal itu tak terlalu mengejutkanku. Sejarah membuktikan, hidupnya memang seringkali berjalan tanpa sengaja.

Aku ingat-ingat lagi, banyak ketidaksengajaan lain dalam hidupnya. Misalnya ketika lulus Aliyah ia iseng daftar beasiswa kuliah dari Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama). Ia memilih UGM meskipun nggak tahu di mana UGM itu berada. Fakta yang menurutku sangat mencengangkan karena awalnya kupikir semua orang Indonesia tahu UGM yang notabene kampus ranking satu nasional itu. Ternyata UGM biasa-biasa aja, nggak sekeren itu. Buat remaja ndeso macam suamiku dulu, UGM –yang mencomot nama Gadjah Mada, legenda dari tanah kelahirannya, Mojokerto, bahkan nggak masuk kamus hidupnya.

Ia ingin kuliah di jurusan Sosiologi karena suka pelajaran tersebut. Konon, guru Sosiologinya di Aliyah sangat menginspirasi. Sayangnya pilihan jurusan itu tidak ada dalam daftar. Akhirnya asal saja ia pilih Ilmu Komunikasi dengan alasan sama-sama Fisipol. Dan diterima.

Masuklah ia ke Jogja dan mengalami rentetan takdir yang tidak pernah ia rencanakan. Masuk sebuah gerakan mahasiswa karena teman-teman se-daerahnya ada di sana. Mendaftar beberapa Pers Mahasiswa (Persma) karena diajak teman-teman barunya di Jogja. S2 lantaran disuruh orang tua di jurusan ang ia pilih asal-asalan (lagi). Setelah lulus berwirausaha yang sekadar berawal dari hobi.

Pengalamannya sangat berbeda denganku yang sejak lulus SD sudah menarget masuk SMP favorit Y, lalu berusaha keras lanjut ke SMA favorit Z. Kuliah UGM pun sudah dicita-citakan sejak lama dengan pemilihan jurusan yang aku pertimbangkan matang-matang. Sebelum masuk ke Pers Mahasiswa yang sama dengannya pun aku sudah terlebih dulu meriset mana di antara dua Persma UGM yang lebih cocok untukku. Singkat cerita hidupku lebih terencana sementara suamiku tidak. Di titik ini aku memahami, perjalanan hidup yang penuh kejutan itu membentuk karakternya yang cenderung spontan, kadang impulsif.

Dari dua pendekatan hidup yang berbeda itu, hasilnya pun berlainan. Orang yang melakukan perencanaan hidup berharap dia dapat mengantisipasi masa depan dan mencapai target yang ia inginkan. Namun, aku justru selalu merasa tak puas dengan proses yang aku jalani kemarin-kemarin. Semacam ada perasaan kurang menikmati atau kurang maksimal di setiap fase.

Beda dengan suamiku, dengan keluguannya menjalani hidup ia justru mencapai progresivitas mengagumkan –hal yang belum aku raih di hidupku yang sangat terencana ini. Ia punya lebih banyak jaringan dari pertemanannya di komunitas, jurusan, maupun aneka lembaga. Jenis pertemanan yang masih terus bertegur sapa hingga kini. Ia membaca lebih banyak buku dan menulis lebih baik ketimbang aku yang sejak belia membayangkan diri sebagai ilmuwan sosial. Ia yang baru mengenal jurnalisme di bangku kuliah tiba-tiba jadi pengurus harian di sejumlah lembaga pers mahasiswa bahkan pemimpin umum di salah satunya. Sementara aku yang pernah didaulat jadi presiden klub jurnalistik di SMA tetap berkutat di situ-situ aja. Sekarang dia mengembangkan bisnis yang jadi tumpuan hidup kami meski berawal dari iseng-iseng belaka. Sedangkan aku yang punya cita-cita fix tentang masa depan sampai sekarang malah belum ngapa-ngapain. Yang paling bikin aku menangis saat ini adalah dia bisa lulus S2 dengan mudahnya meski tidak begitu niat sekolah, sementara aku yang berapi-api ingin meraih gelar master, di jurusan yang aku pilih secara sadar penuh, masih berlarat-larat dengan tesis sampai detik ini. T-T

Melihat komparasi itu aku jadi tertegun, dan berucap padanya,

“Kok beda banget ya Mas hidup kita, kamu spontan, sementara aku sangat terencana.”

Gayane merencanakan hidup, kaya yakin umure dawa wae,” timpalnya.

(Gayanya merencanakan hidup, seperti yakin berumur panjang saja.)

Glek. Benar juga. Kadang terlalu melihat ke depan malah bikin anxiety dan lupa menjalani hidup yang di depan mata. Padahal hidup itu ya sekarang ini. Banyak aktivis mental health di lini masa menyuarakan itu sekarang, meski suamiku tentu tak peduli dengan itu semua. Dia menjalani hidupnya mirip seperti sebuah kata mutiara di salah satu novel Andrea Hirata: melakukan yang terbaik di titik di mana kita berada.Ustaz di pondokku dulu juga pernah dhawuh bahwa panjang angan-angan (thulul amal) itu tak baik.

Dari obrolan receh di perjalanan itu aku dapat satu pelajaran, bukannya rencana tidak penting, tapi hidup itu kadang hanya perlu dijalani saja, sebaik-baiknya. Lalu biarkan ia memberi kejutan-kejutannya. Tidak perlu membebani diri dengan segudang rencana. Terlebih memancang ekspetasi tinggi-tinggi pada hidup. Masih diberi napas sampai esok hari saja sudah syukur, sambil berdoa semoga tidak jadi perpanjangan waktu berbuat maksiat.

Eitz, tapi kalau rencana keuangan keluarga itu tetap perlu ya, dan kami juga sudah sepakat, demi masa depan anak(-anak). Contohnya memelototi IHSG itu juga bagian dari financial plan. Begitu, saudara-saudara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *