Resensi Buku “Gen M”, Yuswohady

“Gen M: Islam Itu Keren”

Judul Buku : Gen M: #GenerationMuslim “Islam itu Keren”
Penulis : Yuswohady, dkk
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit  : 2017
Halaman : xxvi + 282

Buku ini memperkenalkan istilah baru “Gen M” dengan konsep yang sama sekali berbeda dengan Gen X, Gen Y, atau Gen Z yang selama ini kita kenal sebagai pengelompokan berdasarkan generasi. Gen M atau “Generation Muslim” adalah sebutan bagi kelompok kelas menengah muslim khas Indonesia yang sedang tumbuh dan diprediksi akan terus tumbuh.

Kita mungkin bertanya-tanya mengapa industri berlabel Islam semakin hari semakin marak dan diminati. Mulai dari fashion muslim, keuangan syariah, umrah dan ziarah, pendidikan berbasis Islam, media dan dakwah Islam, filantropi Islam, hingga kosmetik serta makanan halal. Dalam buku ini, Yuswohady dkk memaparkan, melejitnya pasar muslim beriringan dengan pertumbuhan Gen M yang pesat. Gen M didefinisikan sebagai bagian dari kelas menengah muslim yang punya karakter relijius, modern, mengamini kebaikan universal, serta memiliki daya beli yang tinggi.

Sebelum bicara lebih jauh, kelas menengah atau mereka yang didefinisikan dengan tingkat daya beli US$ 2-20 per kapita per hari jumlahnya memang terus meningkat baik di level global maupun nasional. Bank Dunia memprediksi kelas menengah Indonesia akan mencapai 211 juta jiwa pada 2030 dengan pertumbuhan 7 juta per tahun. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, kelompok kelas menengah muslim Indonesia patut mendapat perhatian.

Pada 2014 Yuswohady dkk merilis buku “Marketing to The Middle Class Muslim” yang memetakan kelas menengah muslim Indonesia ke dalam empat kategori yaitu apatis, rasionalis, konformis, dan universalis. Di antara keempatnya, kelompok universalis-lah yang diyakini akan semakin membesar lantaran perkembangan teknologi dan globalisasi. Mereka adalah kaum muslim yang di satu sisi memiliki pengetahuan atau wawasan yang luas, pola pikir global, melek teknologi, tetapi di sisi lain secara teguh menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga lebih mau menerima perbedaan dan cenderung menjunjung tinggi nilai-nilai yang bersifat universal (hlm. vii-ix). Mereka inilah yang disebut sebagai Gen M.

Gen M lahir dan tumbuh melalui proses yang panjang, Yuswohady membaginya ke dalam empat babak: masa kelahiran, masa pembentukan, masa pertumbuhan, dan masa panen. Gen M lahir di akhir dekade 1980-an sampai awal dekade 1990-an bersamaan dengan momentum keterbukaan politik pemerintah Orde Baru terhadap kelompok Islam. Di masa ini tekanan terhadap Islam mulai dilonggarkan misalnya melalui pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan dicabutnya pelarangan penggunaan jilbab bagi pelajar.

Era  pembentukan terjadi pada 1994 -2005 saat figur-figur Islam mulai menempati pos-pos pemerintahan Orde Baru. Pasca Soeharto mundur, Islam makin percaya diri untuk menampilkan wajahnya di hadapan publik yang kelak menjadi bibit merebaknya budaya pop Islam. Era ini juga ditandai dengan sejumlah aksi terorisme namun tidak kemudian mengubah pandangan umat Islam menjadi ekstrem.

Tahun 2006-2019 menjadi era di mana budaya populer Islam semakin berkembang dan industri yang menarget segmen muslim kian tumbuh pesat. Pada masa ini jilbab mengalami revolusi menjadi hijab yang dipersepsikan sebagai fashion yang moderen dan stylish. Penetrasi mobile data juga membuat umat Islam mudah mengekspresikan keagamaan di media sosial. Sebegitu potensialnya kelompok Islam, momentum politik di pusat maupun daerah sejak 2014 pun menggunakan politik identitas keislaman sebagai alat pendulang suara. 2019 dan seterusnya diramalkan menjadi masa panen bagi pasar Islam seiring diberlakukannya UU Jaminan Produk Halal. Populasi muslim dunia juga diproyeksikan akan terus tumbuh.

Jika melihat pembabakan di atas, tampak bahwa Gen M lahir di tengah situasi ekonomi yang baik sehingga mereka pun mendapat akses pendidikan yang baik. Sejak pertengahan 1990-an ekonomi Indonesia maju pesat akibat oil boom. Meski sempat terpuruk krisis 1998, nyatanya Indonesia bisa bangkit hingga pada 2010 masuk ke jajaran Negara berpendapatan menengah. Berkat pendidikan yang memadai, Gen M pun mendapatkan pekerjaan yang bagus sehingga kini memiliki daya beli yang kuat.

Dalam proses perkembangannya, Gen M dipengaruhi konteks sosial, politik, maupun ekonomi yang melingkupinya. Antara lain revolusi digital, gaya hidup global, kepedulian global, euforia demokrasi, hingga boom ekonomi termasuk krisis. Mengutip cost signalling theoy, menurut Yuswohady dkk hal ini secara tidak sadar membentuk nilai-nilai, aspirasi, dan gaya hidup mereka. Dari berbagai pengaruh itu ada sejumlah hal yang kemudian dianggap keren atau cool bagi Gen M seperti being global, being digital, being creative, innovative and doing entrepreneurship, giving, green living dan nasionalisme. Di tengah geliat peradaban Islam muncullah konsep keren yang lain atau “the new cool” seperti berhijab, konsumsi halal, komitmen anti-riba, zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf), serta munculnya influencer-influencer Islam yang menjadi panutan baru.

Berangkat dari nilai-nilai itu, buku ini lantas memberikan sejumlah insight dan strategy bagi pelaku perekonomian untuk menyasar Gen M. Ada tujuh sektor industri potensial yang diamati yaitu fesyen dan kosmetik halal, makanan halal, keuangan syariah, umrah dan turisme halal, pendidikan Islam, media dan dakwah, serta ziswaf. Meskipun pada dasarnya buku ini memberikan cetak biru marketing, namun ia tetap relevan dibaca oleh siapa saja yang tertarik terhadap kajian keislaman khususnya yang berfokus pada kelas menengah. Meskipun sarat referensi dari berbagai literatur ilmiah, buku ini disajikan dengan ringan, hingga tak perlu khawatir berkerut kening membacanya.

*pertama diunggah di www.tsaqafah.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *