Mengapa Ibu-ibu Saling Berkompetisi

Let’s love more and judge less

Di hari ibu sedunia dua hari lalu, saya merenungkan alasan-alasan mengapa para ibu cenderung saling berkompetisi satu sama lain, alih-alih saling mendukung dengan tulus. Kompetisi yang saya maksud ialah, selalu ingin merasa lebih baik dan cenderung mencari-cari kelemahan yang lain. Kenapa saya batasi subjeknya di ranah ibu-ibu, karena secara personal situasi ini kental sekali saya rasakan ketika telah menjadi seorang ibu. Meskipun, konon, kompetisi ini selalu menghantui hidup perempuan sejak kecil.

Keadaan ini rasanya telah dianggap lazim dengan populernya istilah “mom-war”. Istilah ini identik dengan polarisasi pilihan tiap ibu seperti melahirkan spontan versus melahirkan melalui operasi caesar, memberi ASI versus memberi susu formula, memberi MPASI instan versus MPASI rumahan, memakai popok sekali pakai versus cloth diapers, stay at home mom versus working mom, dan lain sebagainya. Kedua belah pihak punya argumen masing-masing untuk merasa lebih baik. Tapi, yang melahirkan spontan lalu memberi ASI disusul MPASI rumahan sembari pakai popok kain dan intensif membersamai tumbuh kembang si kecil sering dianggap lebih unggul,

Istilah mom-war muncul di media sosial, namun di tempat yang sama sudah banyak pula upaya untuk menghapus kubu-kubu ini. Sudah banyak kampanye-kampanye yang menyerukan untuk mensupport fellow moms, menihilkan judgement, menyebarkan awareness bahwa setiap ibu punya situasi berbeda yang mengantarnya pada pilihan-pilihan berbeda pula. Bahwa tak perlulah menambah tekanan kalau tiap ibu dituntut harus sempurna. Bahwa menjadi ibu itu sudah berat, nggak usahlah ditambah bebannya dengan omongan nyinyir.

Ibu-ibu millennial perkotaan yang tech-savvy harapannya bisa mengurangi tensi kompetisi ini ketimbang semakin menyalakannya. Tapi ketika merefleksikannya ke diri sendiri kenapa ya rasa kompetisi ini tidak bisa benar-benar hilang? Kendati tidak menyerang atau melontarkan nyinyiran secara frontal, tapi secara subtil kompetisi itu masih tetap terasa. Misalnya dengan mengunggah konten-konten di media sosial yang secara tidak langsung ingin menunjukkan kecakapan sebagai ibu. Entah itu soal anak yang makan lahap, menguasai skill baru, teknik parenting yang update  dan lain sebagainya. Contoh lain saat melihat seorang ibu memperlakukan anaknya kemudian tersirat dalam hati, “Eh kok gitu sih”. Kadang kelihatannya berbagi tips atau pengetahuan tapi masih dilandasi keinginan untuk menunjukkan memiliki pemahaman yang lebih baik. Tindakan menyalahkan diri sendiri setelah membandingkan keadaan atau kecakapanya dengan ibu-ibu lain yang dianggap lebih baik juga masih ada.

Pada kelompok old-millenial atau baby-boomers terutama di area rural yang tidak terlalu akrab dengan media sosial, kompetisi tetap ada dengan media yang berbeda: beredar dari mulut ke mulut. Bukan hanya soal cara ibu mengurus anak, tapi lebih luas lagi, urusan ibu mengurus rumah tangganya. Si A nggak bisa masak atau masakannya nggak enak, si B nggak telaten bersih-bersih rumah, terlalu malas, dan lain sebagainya. Omongan-omongan semacam ini bisa diidentifikasi lewat kasak-kusuk obrolan ibu-ibu. Yang sebenarnya, mungkin saja mereka saling mengomentari satu sama lain juga di belakang.

Nah lalu pertanyaannya, mengapa ini semua terjadi?

Menurut teori psikologi evolusi yang dipaparkan di laman ublik.id, perempuan secara nature memang sudah kompetitif. Menggunakan pendekatan seleksi alam, teori ini mengatakan bahwa dulu, wanita harus melindungi diri mereka sendiri (baca: rahim mereka) dari ancaman fisik. Karena di masa kini wanita tidak perlu lagi melakukannya, maka tingkah laku tersebut dilarikan ke hal-hal sepele.

Pendapat ihwal kompetisi sesama perempuan dianggap sebagai karakter alamiah ini turut diamini oleh sebuah artikel di mojok.co. Perempuan dinilai lebih sensitif serta memiliki kebutuhan akan perhatian yang lebih besar dibandingkan lelaki. Lantas, keinginan untuk menjadi pusat perhatian juga menjadi lebih besar. Jadi, perempuan saling berkompetisi agar lebih diperhatikan.

Namun, teori ini masih bisa diperdebatkan. Penelitian Harvard Kennedy School yang dilansir dari voxpop.id menampik teori bahwa perempuan kompetitif dengan sesamanya secara alamiah dibanding laki-laki. Nyatanya, sikap kompetitif dari pejantan terkait perebutan teritori, betina, dan hasil buruan dari berbagai spesies telah banyak diteliti, termasuk dalam spesies manusia.

Terlepas dari itu, saya sih lebih tertarik membacanya melalui perspektif sosial.

Najeela Shihab dalam wawancara bertajuk “Perempuan di Keluarga Shihab” di kanal Najwa Shihab memberi pernyataan menarik. Menurutnya, sikap julid, iri atau stigma sesama perempuan itu terjadi bukan tanpa alasan. Hal itu dilatarbelakangi oleh kondisi patriarkis dunia di mana kesempatan perempuan jauh lebih terbatas daripada kesempatan untuk laki-laki. Sehingga, perempuan seolah saling berebut kesempatan sehingga menganggap yang lain sebagai kompetitor.

Narasi kompetisi sesama perempuan ini turut dilanggengkan oleh media. Ada banyak contoh seperti princess-princess ala Disney yang memupuk ketegangan antar perempuan sejak masa kanak-kanak. Misalnya, Ratu Grimhilde dalam kisah Putri Salju yang terobsesi jadi perempuan tercantik. Jangan lupakan pula Cinderella dan kakak-kakaknya yang berebut calon suami. Di konteks lokal, ada bawang merah versus bawang putih. Kalau konteks aktualnya, kita bisa lihat sengitnya perseteruan antar-perempuan di drama The World of the Married. Entah dalam ranah karier, relasi sosial, maupun rumah tangga.

Sampai di sini saya kemudian menemukan dua pencetus. Pertama, struktur budaya patriarkis yang mensubordinasi dan mengadu domba perempuan. Kedua, framing kompetisi antar-perempuan yang dipupuk oleh media. Lalu bagaimana mengaitkannya dengan subjek ibu-ibu?

Dalam struktur budaya patriarkis, tanggung jawab urusan rumah tangga dan pengasuhan anak dibebankan di pundak ibu. Seorang ibu yang ideal dibayangkan sebagai sosok sempurna yang cakap mengurus rumah tangga dan anak. Imaji ideal ini mengungkung para ibu dan membuat mereka ingin saling membuktikan diri. Karena ini adalah konsep yang abstrak, tolok ukur keberhasilan yang paling mudah kemudian adalah dengan membandingkannya dengan peran ibu-ibu lain. Mencari kelemahan ibu-ibu lain dilakukan untuk memberi keabsahan bahwa ‘aku lebih baik daripada dia’ atau minimal ‘aku tidak seburuk yang aku pikirkan’. Hanya dengan mengikuti standar patriarkis itulah, seorang ibu merasa dirinya lebih bermakna.

Menjadi seorang ibu di lingkungan patriarkis juga membuatnya mendadak tidak punya banyak pilihan. Rasa insecure pun hadir tatkala seorang ibu melihat ibu-ibu lain memperoleh satu pencapaian. Kelemahan demi kelemahannya dikuak dengan tolok ukur patriarkis tadi. Seorang ibu yang sukses di ranah publik akan diberondong pertanyaan bagaimana ia menyeimbangkan kehidupan karir dan rumah tangga. Sementara pertanyaan yang sama lebih jarang dilontarkan kepada laki-laki yang sukses.

Budaya patriarkis yang tidak menempatkan laki-laki dan perempuan dengan setara juga menggambarkan laki-laki lebih kuat dan berkuasa. Sehingga, laki-laki bukanlah lawan yang seimbang bagi perempuan. Oleh karenanya, perempuan kemudian diarahkan untuk berseteru dengan sesama perempuan.

Ihwal media, apalagi yang mau dibahas? Media mainstream masih menjadi agen kunci yang melanggengkan struktur patriarkis. Relasi negatif kompetisi antar-ibu direproduksi terus menerus bak mata rantai yang sulit diputus. Pada akhirnya kompetisi negatif itu dinikmati, dianggap sebagai kelaziman.

Sampai saat ini jawaban yang saya temukan sih kurang lebih begitu. Kalau menurut kamu gimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *