Bapak dan Tanggal Pernikahan

KH Ahmad Warson Munawwir (NU Online)

Salah satu hal yang sangat aku syukuri adalah bahwa aku terlahir di keluarga yang cukup demokratis. Orang tua mempercayaiku untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup secara mandiri tanpa banyak intervensi. Mulai memilih tempat kuliah berikut jurusannya, mengikuti sejumlah kegiatan, hingga menikah dengan siapa dan kapan. Nah soal yang terakhir ini, aku memilih tanggal pernikahan spontan saja awalnya. Tapi ada satu kebetulan yang membuat hatiku berdesir karena berkaitan dengan Bapak. Ah, Bapak…

Suatu hari di awal tahun 2018, kalau nggak salah ingat, Ibu menelepon saat aku masih berada di pondok. “Jadi mau nikah tanggal berapa? Ini Ibu ada di gedungnya biar Ibu booking sekalian.” Ibuku jarang-jarang nelpon, kecuali ada hal yang amat penting, mengajukan pertanyaan di atas, misalnya.

Flashback sedikit, akhir tahun 2017 kami sekeluarga membalas pinangan keluarga seorang laki-laki dari kota antah berantah bernama Mojokerto. Bapak, mewakili aspirasiku menyampaikan bahwa keluarga kami siap menggelar pernikahan (akad dan resepsi) di bulan Syawal. Pertimbangan memilih Syawal sesungguhnya adalah karena aku ingin menyelesaikan 90% khidmah di pondok. Kuperkirakan di bulan Syawal masa khidmahku sudah mendekati paripurna dan setelah bulan Syawal aku tinggal mempersiapkan proses pergantian pengurus. Keluarga calon suamiku pun setuju. Mereka berasal dari kultur pesantren yang kuat sehingga alasan seperti ini cukup masuk akal. Apalagi aku sudah terikat ‘kontrak’ dengan Ibu Nyai yang pantang untuk dilanggar.


Kembali ke pertanyaan di telepon tadi, aku gelagapan menjawabnya. Aku belum punya tanggal pasti di pikiran. Jadi segera kubuka kalender di ponsel dan memilih mana tanggal yang kira-kira cocok. Ibuku cuma berpesan, akad di hari Jumat lalu resepsi di hari Sabtu. Alasannya teknis sekali, biar Minggu bisa istirahat dan Senin bisa masuk sekolah, ngajar.

“Tanggal 13 dan 14 Juli sajalah, Buk,” jawabku setelah mengamati kalender. Tanggal itu jatuh di akhir Syawal dan awal Dzulqo’dah. Pertimbanganku, di tanggal itu liburan pondok telah usai dan aku berharap bisa ngalap berkah doa teman-teman santri di pernikahanku. Ibuku deal, gedung pun booked.

Setelah percakapan di telepon itu aku terus menerus ngangen angen, tanggal tadi tepat nggak ya? 

Beberapa saat setelah itu aku dipertemukan kembali dengan sebuah dokumen. Dokumen ini asalnya dari Latifah, santri tetangga kamarku yang sedang menulis TA mengenai biografi Bapak, almaghfurlah KH. Ahmad Warson Munawwir. Ya, kami memanggil beliau Bapak. 

Latifah pernah datang ke kantor pondok dengan membawa segepok harta karun berupa dokumen berharga. Harta karun itu didapatkannya dari Gus Kholid, menantu Bapak, yang menyimpan surat-surat penting milik Bapak. “Wah, Peh,” seruku pada Latifah, “…kamu beruntung sekali bisa mengakses data-data ini, sedangkan aku waktu menulis biografi beliau belum pernah melihatnya.” Latifah tersenyum sumringah.
Maka saat itu, dengan komputer pondok, aku menscan sejumlah dokumen itu dengan alasan supaya pondok punya back-upnya. Toh Gus Kholid sudah mengizinkan dokumen tersebut diakses santri (hehe). Seingatku ada beberapa lembar ijazah dan sejumlah kartu, salah satunya kartu pers bercap Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) milik beliau. 

Tak lama setelah penentuan tanggal pernikahan itu, entah bagaimana ceritanya, aku berjumpa lagi dengan salah satu dokumen itu, ijazah S1 Bapak dari Universitas J. Ijazah zaman itu rupanya membubuhkan tanggal lahir juga. Di sana tertera, Bantul, 14 Juli 1934. Aku tersentak. 14 Juli? Tanggal pernikahanku sama dengan hari lahir masehi beliau? Seketika aku diliputi rasa bahagia dan haru sekaligus.

Tapi aku kurang yakin dengan dokumen itu sebab Gus Kholid pernah ngendiko kalau ada banyak versi tanggal lahir beliau dari banyak dokumen. Benar saja, kucek di buku biografi tertera tanggal lahir 30 November 1934 yang entah kudapat dari mana referensinya. Namun entah mengapa aku tetap saja merasa bahagia. 

14 Juli akan jadi tanggal resepsiku. Kenyataan bahwa syukuran pernikahanku akan digelar di hari kelahiran beliau itu sudah membuatku bungah. Meskipun itu hanya menurut satu versi yang perlu diuji lagi kebenarannya. Tapi tetap saja, bagiku ini adalah kebetulan yang indah.

Bapak adalah sosok yang sangat aku kagumi sejak aku baru dengar namanya. Sejak salah seorang mbak-mbak santri bilang, “Pengasuh pondok ini tu yang bikin kamus Arab-Indonesia,” di hari pertama aku mondok. Sejak aku lihat begitu tebalnya kamus itu -bahkan sebelum aku membuka atau bisa membacanya, aku sudah yakin pembuatannya tentu bukan proses yang mudah. Kekaguman itu semakin menebal setelah mengetahui beliau menggunakan hasil penjualan kamus untuk membangun pondok putri di kota pelajar yang benar-benar jadi solusi bagi perempuan belia yang ingin nyantri sambil kuliah di -kampus yang katanya favorit- sepertiku. Melihat pengelolaan pondok yang demokratis, mengembangkan kapasitas santri sekaligus humanis menjadi nilai tambah tersendiri.

Kekaguman demi kekaguman itu membuatku dan teman-teman tak kekurangan alasan untuk mengabadikan kehidupan beliau ke dalam sebuah buku. 


Namun, proses pembuatan biografi beliau di kemudian hari adalah hari-hari penuh gejolak emosi bagiku. Bukan mengenai penggalian data dan penulisan yang menguras tenaga tapi lebih kepada perasaan minder level akut. Siapa aku yang berani-beraninya merangkum kehidupan beliau dalam sebuah buku? Pantaskah aku?


Rasa tak percaya diri kutumpahkan lewat ziarah-ziarah emosional di makam Bapak sekadar supaya aku memeroleh ketenangan batin. Kata maaf kuucapkan berkali-kali atas kelancanganku. Tak terhitung pula aku berharap dapat pertanda bahwa aku boleh melanjutkan proses penulisan. Pada akhirnya aku menyandarkan diri pada restu keluarga ndalem atas penulisan biografi itu.


Sampai setelah tulisan itu selesai, aku masih rendah diri untuk mendaku sebagai santri Bapak. Sebab tak secuilpun ilmu atau akhlak beliau aku warisi. 


Pada akhirnya, aku pun cukup bahagia dengan kenyataan kalau tanggal pernikahanku bertepatan dengan hari lahir Bapak meski menurut versi yang belum jelas kesahihannya. Dengan demikian aku bisa mengingat bahwa saat aku mensyukuri kehidupan baruku, di hari yang sama ada sosok luar biasa yang terlahir dan menjadi berkah, manfaat, serta inspirasi untuk banyak orang.

Pertanyaannya, apakah Bapak rawuh di tasyakuran resepsi hari itu sebagaimana Ibu dan seluruh putra putri beliau? Allahu a’lam. Yang jelas, sudah kuniatkan, insyaallah, #besokkitadatanghaultahunini. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *