Menengok Kampanye Islam Moderat Akun Instagram @ulama.nusantara*

@ulama.nusantara

Perkembangan teknologi informasi telah mempengaruhi model-model komunikasi termasuk dalam ranah keislaman. Internet yang hadir sebagai ruang yang terbuka dan egaliter bagi berbagai pihak turut memberi kesempatan bagi berbagai golongan dalam Islam untuk tampil di dalamnya. “Perang” narasi keislaman tak terhindarkan ditambah lagi dengan kontestasi politik yang turut membumbui.

Propaganda, ujaran kebencian, serta berita bohong bernada Islamis menjadi tantangan nyata bagi kehidupan berbangsa Indonesia setidaknya sejak satu dekade silam. Munculnya sosial media turut memberi panggung terhadap aksi-aksi ini. Tidak saja menimbulkan keriuhan di ruang maya, fenomena ini secara kongkret mengancam kohesi sosial.

Praktik dakwah yang sejuk, damai, dan menjunjung nasionalisme menjadi kebutuhan primer yang tak terhindarkan lagi. Pesantren yang telah ikut andil dalam membentuk jati diri bangsa diharapkan kembali perannya sebagai pereda konflik dan penyejuk suasana.  Dakwah ala ulama-ulama Nusantara yang berwawasan kebangsaan dipandang perlu untuk diaktualisasikan kembali melalui medium yang berbeda. Pengarusutamaan ini perlu untuk mengedukasi kelas menengah dan generasi milenial sebagai media native yang menyerap berbagai informasi dari sosial media.

Sejumlah geliat pesantren di sosial media untuk mengemban misi tersebut telah tampak salah satunya melalui akun @ulama.nusantara. Berangkat dari pesantren, akun ini menerapkan metode dakwah yang sederhana namun terukur dengan menampilkan sejumlah figur kiai nusantara kredibel yang teredam suaranya oleh gegap gempita media. Dilakoni secara konsisten, @ulama.nusantara membuktikan bahwa upaya literasi tersebut membuahkan hasil yang manis. Respon positif datang dari berbagai pihak baik dari kalangan Islam maupun non-Islam. Semangat nasionalisme untuk memayungi keberagaman berhasil digaungkan kembali. Sejalan dengan itu, ia juga mampu menjadi rujukan yang legit bagi pencarian referensi keislaman yang otoritatif dan bisa dipertanggungjawabkan.

***

Geliat komunitas pesantren di jagad Instagram sesungguhnya mulai terlihat pada awal tahun 2016 lewat dirilisnya akun @alasantri yang ingin berbagi cerita seputar santri dan pesantren. Kemunculan akun ini kemudian diikuti oleh akun-akun santri lainnya hingga menginisiasi lahirnya jejaring bernama Arus Instagram Santri yang kemudian meluas menjadi Arus Informasi Santri Nusantara (AIS-NU). Sebagai komunitas siber yang berangkat dari kultur pesantren, kelompok ini mengusung visi digitalisasi dakwah ahlussunah wal jama’ah. Di awal kemunculannya itu, jumlah pengikut akun-akun media sosial yang berada di bawah naungan AIS-NU berkisar di angka 1,5 juta dan diperkirakan akan terus tumbuh.

Pada 2017 akun @ulama.nusantara dirintis oleh M. Misbahul Ulum, santri yang pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto dan Ma’had Aly Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Berawal dari kecintaannya terhadap ulama, ia mengisi akun tersebut dengan sejumlah kutipan-kutipan para ulama. Ulum menggunakan nama @ulama.nusantara karena kontennya merujuk pada para kyai nusantara yang memiliki genealogi keilmuan Islam yang bisa dipertanggungjawabkan.

Penggarapan konten @ulama.nusantara berkembang dari yang semula kutipan menjadi video-video ceramah satu menit hingga IG-TV, dan berlangsung konsisten hingga hari ini. Pada 4 September 2019 akun @ulama.nusantara berhasil mengumpulkan 376ribu pengikut yang didominasi oleh kalangan milenial berusia 18-34 tahun. Perolehan jumlah follower ini menjadikannya sebagai salah satu akun berlatarbelakang pesantren terbesar di Instagram.

Proses pembuatan konten pada akun @ulama.nusantara pada dasarnya sederhana. Dari hasil wawancara, Ulum sebagai admin tunggal memaparkan bahwa ia mengumpulkan berbagai materi dakwah para kiai Indonesia baik secara offline maupun online untuk kemudian ia bagikan kembali kepada warganet. Sejumlah kutipan ia ambil dari sumber primer misalnya unggahan KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) atau sumber sekunder yang otoritatif seperti tulisan keluarga dekat atau santri kiai yang bersangkutan.

Untuk konten video, ia kebanyakan mengambil video ceramah dari kanal Youtube kemudian dipotong dengan durasi satu menit sesuai fokus yang ingin ia angkat. Seringkali Ulum juga menambahkan subtitle berupa tulisan Arab atau terjemahan bahasa Indonesia untuk memudahkan saat seorang kiai berbicara dengan bahasa daerah. Isi video ia tuliskan secara lengkap sebagai caption, dan di akhir ia pun menambahkan sumber dari mana konten tersebut diambil.

Meskipun sederhana, sarjana Ilmu Komunikasi UGM ini menjelaskan bahwa dalam praktik pembuatan kontennya ia mengadopsi model komunikasi Harold Laswell. Dalam “The Policy Orientation” (1951) Laswell menyebut ada lima unsur penting dalam komunikasi yang wajib menjadi perhatian. Yaitu “who” (siapa yang menjadi komunikator), “says what” (pesan apa yang ingin disampaikan), “in which channel” (medium apa yang digunakan untuk menyampaikan pesan), “to whom” (siapa penerima pesan tersebut), dan “with what effect” (efek apa yang diharapkan dari pesan tersebut).

Dalam memproduksi konten @ulama.nusantara Ulum mengaku mencoba memetakan setiap unsur dalam komunikasi tersebut sebagai strategi pembuatan kontennya agar pesan yang ingin ia sampaikan berhasil. Menurutnya, @ulama.nusantara ingin menyasar tidak saja para pecinta ulama, namun juga pihak-pihak yang ingin belajar Islam tapi kesulitan menemukan sumber yang otoritatif. Adapun pesan yang ingin disampaikan tidak saja seputar pengajian yang bermuatan fiqih, tafsir, tasawuf, maupun sejarah Islam melainkan juga humor dan tanggapan atas isu-isu kekinian.

Akun dengan dominasi pengikut pria ini juga ingin memastikan bahwa seluruh pesan yang disampaikannya dibalut dengan kebijaksanaan, kesantunan, toleransi, kedamaian serta nasionalisme ala para kiai nusantara. Ditujukan kepada kaum milenial di jagad Instagram, @ulama.nusantara berupaya kontennya menarik secara visual dan dapat ditangkap esesnsinnya lewat medium yang terbatas itu. Pada akhirnya, admin mengharapkan keberadaan akun ini dapat tampil untuk meng-counter narasi kebencian dan propaganda serta mengembalikan konsep pembelajaran Islam ke sumber yang otoritatif.

***

Pada praktiknya, akun ini kerap mengangkat lima tokoh @ulama.nusantara yang dianggap representatif untuk menunjukkan Islam yang ramah sekaligus berwawasan. Mereka adalah KH. Anwar Zahid, Bojonegoro; KH. Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq), Yogyakarta; KH. Bahaudin Nursalim (Gus Baha’), Rembang; Gus Miftah Mulana Habiburrahman (Gus Miftah), Yogyakarta; dan KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), Sarang Rembang.

Sejumlah unggahan ceramah para kiai di atas sukses viral di Instagram. Unggahan video KH. Anwar Zahid pada 18 Oktober 2018 yang diberi judul “Alpaatekaah!” sukses mendulang 493.694 jangkauan. Video ini merespon keresahan yang terjadi di masyarakat lantaran ucapan al-fatihah Presiden Joko Widodo yang dianggap tidak fasih. Dalam cuplikan video tersebut KH. Anwar Zahid menerangkan bahwa lidah orang Jawa tidak bisa disamakan dengan lidah orang Arab. Selain itu dialek yang digunakan dalam bahasa Arab juga bisa bervariasi di berbagai negara. Lebih lanjut kiai yang dikenal jenaka itu menjelaskan bahwa bagaimanapun ucapannnya, yang terpenting adalah niatnya, sebab yang diterima oleh Allah adalah menyambungnya ruh. Video ini disukai oleh 26.131 orang.

Di kesempatan lain ceramah Gus Mus mengenai penghargaan terhadap budaya lokal juga melejit hingga mencatat 393.922 jangkauan dan disukai oleh 17.874 orang. Beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menghargai budaya lokal dengan tidak menciptakan busana khusus Islam melainkan menggunakan pakaian daerah yang dalam konteks beliau adalah Arab. Sehingga, secara lahiriyah tidak ada bedanya penampilan Nabi Muhammad SAW dan Abu Jahal. Perbedaan keduanya terletak pada akhlak di mana Rasulullah murah senyum sementara Abu Jahal memasang wajah garang.

Di samping dakwah penuh humor dan hikmah, ceramah mengenai fiqih juga mampu menarik perhatian netizen. Terbukti unggahan @ulama.nusantara atas video penjelasan Gus Baha’ mengenai pengertian mahram disukai oleh 17.126 orang dan menghasilkan 280.729. Dalam kolom komentar video tersebut banyak orang mengaku tercerahkan atas definisi mahram yang berarti orang yang boleh dinikahi sehingga dengan demikian seorang istri bukanlah mahram bagi suaminya.

Sementara itu, nasionalisme yang sering digaungkan oleh Gus Muwafiq juga berhasil mendapatkan perhatian pengguna Instagram lewat akun @ulama.nusantara. Dalam cuplikan video berjudul “Bersatu Karena Pancasila” Gus Muwafiq dengan spesalisasi pembahasan sejarahnya menegaskan bahwa Soekarno adalah satu-satunya presiden yang berani berbicara Al-Quran di sidang tahunan PBB. Proklamator itu menjelaskan bahwa persatuan Indonesia dibentuk bukan dari manifesto komunis atau keberpihakan Indonesia kepada Blok Barat melainkan atas dasar Pancasila yang juga terkandung di dalam Al-quran. Ceramah ini mampu menghasilkan jangkauan 235.205 dan mendulang 14.015 like.

Gus Miftah, penceramah paling muda di antara para kiai yang sering diunggah ceramahnya oleh akun @ulama.nusantara juga banyak disukai karena gayanya yang sesuai dengan karakter anak muda. Video beliau dan istri yang sedang memasak bersama sembari melontarkan humor seputar rumah tangga disukai oleh lebih dari 7.500 orang dan dikomentari hampir 200 kali. Dalam video tersebut beliau mengatakan bahwa sebaik baik istri adalah makmum yang baik bagi suaminya dan sebaik-baik suami adalah imam yang diikuti oleh banyak makmum.

***

Selain menghadirkan ulama-ulama kharismatik yang mampu menyejukkan suasana, akun @ulama.nusantara juga berupaya melakukan counter narasi atas isu dan propaganda yang dibentuk oleh kelompok Islamis dengan mempresentasikan pendapat ilmiah para ulama. Menanggapi isu negara Islam, @ulama.nusantara menampilkan video KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berjudul “Tidak Wajib Mendirikan Negara Islam”. Dalam video tersebut Gus Dur menjelaskan bahwa justru sebaiknya Indonesia tidak dijadikan negara Islam karena di dalamnya ada umat Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu di mana keragaman tersebut menjadi alasan berdirinya sebuah negara atau raison d’etre du nation. Di sisi lain, untuk menangkal paham takfiri, @ulama.nusantara mempopulerkan kutipan KH. Anwar Zahid yang menyatakan, “Kalau ulama dulu berupaya bagaimana yang kafir itu menjadi Islam. Mengislamkan yang masih kafir. Lha sekarang, baru belajar taubat kemarin sore, sudah berani mengkafir-kafirkan yang sudah Islam,” Unggahan ini pun disukai oleh hampir 12.000 orang.

Tidak berlebihan jika mengatakan akun @ulama.nusantara adalah salah satu akun yang menyuarakan aspirasi kalangan Islam moderat di ranah media sosial. Faktanya, selama dua tahun menunjukkan eksistensinya di Instagram, akun ini banyak menuai respon positif dan efisien menggalang perdamaian sesuai yang diharapkan. Beberapa contoh keberhasilannya antara lain adalah counter-narrative atas bom bunuh diri di sejumlah gereja di Surabaya pada 2018 serta tanggapan atas tulisan dai Maheer at-Thuwalibi yang tidak berempati kepada lima anggota Polri yang gugur di insiden di Rutan Mako Brimob pada Mei 2018. Selain itu, @ulama.nusantara juga berhasil memenuhi ekspektasinya menjadi rujukan bagi pencarian ilmu keislaman yang moderat dan otoritatif.

Pada kasus pengeboman geraja secara beruntun di Surabaya, akun @ulama.nusantara secara sigap meresponnya dengan menayangkan video ceramah KH. Anwar Zahid yang mengutuk keras aksi tersebut. Dalam video berdurasi satu menit yang bertajuk “Bom Bunuh Diri Disambut Bidadari Kucluk (Idiot/Bego)” itu kiai asal Bojonegoro menghimbau warga negara Indonesia untuk jangan sampai terpengaruh oleh aliran-aliran ekstrem radikal yang berupaya merongrong keutuhan NKRI yang sudah menjadi kesepakatan seluruh komponen bangsa. Video berapi-api itu berhasil menggugah rasa nasionalisme sehingga dihujani oleh komentar dukungan bahkan dari akun-akun non-muslim. Dalam unggahan tersebut tampak sejumlah komentar toleran dilontarkan seperti,

“Biarpun saya non-muslim, saya suka melihat pengajian beliau, saya menyukai yang beliau ajarkan KH. Anwar Zahid dan Cak Nun.” @vickri_ard19

“Apa hanya saya di sini yang Kristen tapi senang dengan ceramah-ceramahnya? We love peace, cinta kasih antar umat beragama.” @ignasius_walbat

“Ini baru pendapat yang sangat benar, semua agama tidak diajarkan begitu. Walaupun kita berbeda agama tapi saya sangat sependapat dengan yang ini.” @kusma_9

“Saya yang beragama Hindu pun sejuk mendengarkan ceramah seperti ini, bukan yang menebar kebencian.” @dekwijuliantara12

“Saya non-muslim tapi sangat sangat setuju dengan ceramah Pak ustadz ini.” @danielimsc

“Saya Kristen dan saya suka cara beliau berceramah, respek sekali. Ustadz ya begini, menyejukkan bukannya memanaskan hati. Sehat terus Pak dan selalu diberkati hidupnya agar selalu menjadi berkat buat yang lain.” @vmiea_mayy

Dalam kasus lain, sesaat setelah meletusnya insiden di Rutan Mako Brimob yang menggugurkan lima anggota Polri pada Mei 2018, muncul tulisan dari akun bernama Ustadz Maaher At-Thuwallibi mengenai info hangat yang disebutnya sedang viral di alam ghaib. Tulisan ini menyebut anggota Polri sebagai gerombolan monyet sementara para teroris adalah segerombolan pasukan yang menyerupai pahlawan. Dalam tulisan itu At-Thuwallibi mengucap syukur atas kematian “para monyet” tersebut. Saking berbahagianya ia bahkan menyebut hari gugurnya para anggota Polri itu seindah pagi hari saat Idul Fitri.

Pada situasi tersebut, @ulama.nusantara turut memviralkan tulisan itu berikut kecaman dari Kombes Pol. M. Sabilul Alif, S.H. Slk, M.Si yang menyayangkan tulisan tersebut dan meminta salah satu televisi swasta yang berencana menghadirkan ustaz tersebut sebagai pembicara untuk membatalkannya. Unggahan tersebut mendulang lebih dari 1.500 like yang kemudian menjadi viral hingga berujung pada pembatalan kehadiran At-Thuwallibi di televisi.

Sebagai tempat mencari rujukan ilmu keislaman, akun @ulama.nusantara juga telah berhasil mendapatkan kepercayaan masyarakat. Tidak saja dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Berdasarkan informasi Ulum, seorang mualaf dari Amerika Serikat pernah menghubungi @ulama.nusantara melalui fitur direct message Instagram yang mengutarakan bahwa ia telah lama membaca mengenai Nahdlatul Ulama yang membawa spirit Islam moderat. Sebagai seorang mualaf kemudian ia merasa membutuhkan bimbingan dari seorang ulama dan menanyakan di mana ia dapat menemukan perwakilan NU di Amerika Serikat.

*nukilan paper yang dikirim untuk Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *