Menakar Politik Identitas dalam Kanal Youtube “Menjadi Manusia”*

Menjadi Manusia

Media merupakan alat representasi, sebab ia mampu menciptakan ruang untuk menampilkan berbagai simbol yang menggambarkan eksistensi suatu hal. Jika mengamini definisi Stuart Hall (1997) bahwa representasi adalah konstruksi makna melalui bahasa, maka penting untuk memiliki kepekaan terhadap penggunaan segala bentuk “bahasa” oleh media. Hal ini dikarenakan produksi makna atau pengetahuan oleh media dapat berimplikasi pada ekslusi kelompok tertentu atau menjadi senjata bagi kelompok marjinal untuk melakukan politik identitas.

Berbicara mengenai politik identitas berarti berbicara mengenai identitas-identitas yang mengalami marjinalisasi. Charles Taylor (1998) mendefinisikan politik identitas sebagai upaya penggugatan atas penyangkalan terhadap agensi yang berbeda. Pada akhirnya, tujuan dari politik identitas adalah mencapai kesetaraan dalam masyarakat multikultural. Nancy Fraser (2000) merinci, ada dua keluaran penting politik identitas yaitu rekognisi dan redistribusi. Rekognisi dipahami sebagai pengakuan yang berbasis pada kesetaraan (equal worth of all culture). Sementara redistribusi, mengacu pada pemerataan akses dan kesejahteraan.

Perbedaan bisa menjadi problematis sehingga memicu peminggiran terhadap kelompok tertentu tatkala ada pe­liyanan atau othering. Nathaniel Mackey (1992)mendefinisikan othering sebagai sebuah kata kerja yang dilakukan oleh individu atau kelompok. Upaya aktif membuat suatu subjek menjadi liyan ini bersangkutan dengan relasi kekuasaan yang tidak ideal dan norma yang disentralkan.

Norma yang disentralkan mengacu pada norma kelompok dominan, sementara agensi orang yang berbeda atau the other dinihilkan dan dipaksa mengikuti nilai sebagaimana yang didefinisikan oleh the self. Akibat relasi ini, liyan yang terdominasi, dimarjinalkan, bahkan dieksklusi, serta dipenuhi dengan banyak stereotipe. Liyan juga dibungkam, tidak diberi akses untuk muncul. Kalaupun liyan muncul dalam perspektif the self, ia akan mengalami tokenisasi atau objektifikasi. Diperlakukan ibarat benda mati (mengalami dehumanisasi) atau hanya menjadi dekorasi.

***

“Menjadi Manusia” adalah kanal Youtube yang cukup menarik untuk ditelaah upayanya dalam melakukan politik identitas. Melalui pemilihan judul yang radikal dan filosofis, kanal ini berihtiar untuk mengkonstruksi makna “manusia” secara lebih inklusif dengan berusaha membuka ruang bagi berbagai kelompok untuk berbicara. Ia dideskripsikan sebagai, “a platform for those who question a lot about life.” atau wadah bagi mereka yang mempertanyakan kehidupan. Adapun tujuannya adalah membagi perspektif dan nilai-nilai positif (sharing perspective and positivity) melalui video, podcast, dan artikel.

 “Menjadi Manusia” mulai mengudara sejak 27 Mei 2018. Hasil amatan terakhir pada 15 November 2019 pukul 17.05 WIB menunjukkan telah ada 124 video di kanal tersebut. Setelah lebih dari setahun eksis di jagad Youtube, ia berhasil meraup 311 ribu subscriber. Kanal ini juga terbilang cukup produktif mengunggah konten video. Video-video tersebut dibagi ke dalam beberapa rubrik –meskipun tidak semua video ditautkan ke rubrik tertentu, yaitu; (1) Kontemplasi, (2) Tentang Cinta, (3) Sisi Lain, dan (4) Provoking Perspective.

 Rubrik “Kontemplasi” berisi tentang perenungan peristiwa sehari-hari melalui narasi anonim. Garis merahnya ada pada refleksi aneka ragam perasaan manusia dalam menjalani hidup dan menolak untuk menyerah. Sementara itu, rubrik “Tentang Cinta” didominasi oleh format cerita pasangan laki-laki dan perempuan. Jika mayoritas narasumber yang berbicara di konten-konten “Menjadi Manusia” adalah “orang-orang biasa” di rubrik “Sisi Lain” redaksi membuat pengecualian. Pada rubrik ini ditampilkan wajah-wajah pesohor yang berbicara mengenai pengalaman-pengalaman personalnya seperti Enda “Ungu”, Petra Sihombing dan Maudy Ayunda, serta seorang fotografer Nicoline Patricia.

Rubrik bertajuk “Provoking Perspective” bisa dikatakan sebagai jantung kanal “Menjadi Manusia”. Rubrik ini mewakili tujuan utama untuk memunculkan the untold stories. Meskipun hanya ada delapan video yang ditautkan pada rubrik ini, tetapi terdapat puluhan video berjudul “Dari Perspektif…” yang bisa dimasukkan dalam kategori ini. Di sana, berbagai perspektif bersuara, di antaranya adalah kelompok LGBT, para pengidap “masalah kejiwaan” seperti skizofrenia, Obsessive Compulsive Disorder, gangguan kecemasan, hingga orang yang dianggap sebagai penista agama, serta kaum minoritas agama.

***

Kelompok marjinal sering dibicarakan tapi tidak terlihat (invisible) dan tidak terdengar (inaudible) dalam ruang representasi. Problem ini kemudian coba diatasi melalui strategi representasi diri (self representation) yang merupakan aktivitas partisipatif dalam budaya digital. Tindakan ini bersifat politis karena ada tendensi untuk mengubah paradigma yang telah mapan.

Secara tegas “Menjadi Manusia” tidak memproklamasikan diri sebagai sebuah gerakan yang menuntut pengakuan atas kelompok-kelompok termarjinalisasi melainkan lebih pada self-help atas krisis identitas kaum milenial-urban. Namun demikian, upaya kanal ini mewujudkan ruang inklusif bagi semua orang untuk bebas berbicara bisa digolongkan sebagai politik identitas dalam bentuk representasi diri.

Peringkat unggahan populer di kanal ini menunjukkan bahwa konten yang paling banyak ditonton adalah video-video yang berkaitan dengan kelompok minoritas. Hasil amatan pada 15 November 2019 menunjukkan bahwa dari sepuluh peringkat teratas konten yang paling disukai urutan tema paling dominan yaitu; kehidupan LGBT, kelompok dengan gangguan mental, kaum minoritas agama, baru kemudian topik perihal politik praktis.

Video mengenai pengakuan mantan transgender mencetak rekor paling banyak ditonton. Dalam video ini, Rega Bernando (Beno) menceritakan pengalamannya menjadi seorang transpuan bernama Kimberly. Ia mengisahkan bagaimana perjalanan hidupnya secara bertahap membentuknya sebagai seorang Kimberly dan kemudian bertransformasi kembali menjadi seorang laki-laki heteroseksual. Beno mengaku merasa malu tiap kali mengingat masa lalunya yang dinilainya penuh dengan hal-hal negatif. Ia juga mengutarakan bagaimana ia mendapatkan judgement dan penolakan dari masyarakat.

Kisah itu menegaskan bagaimana wounded attachment (sejarah luka) dimunculkan. Menurut Wendy Brown (1995) pemunculan sejarah luka penting dalam setiap upaya politik identitas. Atas dasar kebutuhan inilah maka pada akhirnya pengalaman privat perlu disampaikan ke ranah publik untuk menunjukkan sisi ketidakadilan. Mobilisasi luka dimaksudkan untuk memperoleh pengakuan. Kisah Beno menunjukkan upaya kapitalisasi pengalaman pahit itu demi mendapat tempat di masyarakat sebagai “mantan transgender”.

Pola serupa juga muncul pada video mengenai orang dengan gangguan kecemasan yang disampaikan oleh penyintas, Ridho Wiranatakusumah. Ridho yang semenjak duduk di bangku kuliah mulai mengalami anxiety disorder bercerita bahwa dirinya kerap mendapat panic attack secara tiba-tiba yang membuatnya mendadak merasa ada keriuhan di kepalanya. Serangan panik tersebut tidak saja membuatnya terganggu secara fisik melainkan juga memengaruhi perilakunya. Akibatnya, Ridho menjadi rendah diri, tertutup, dan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain. Di akhir video yang dibuat dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental itu tertulis pesan agar penyintas gangguan mental juga harus diperlakukan selayaknya “manusia normal”. Karena, mereka juga manusia.

Sementara itu, dalam aspek agama, “Menjadi Manusia” membuka ruang bagi perspektif-perspektif di luar arus utama untuk bersuara, salah satunya adalah penganut agnostik. Sosok anonim dalam video bejudul, “Dari Perspektif Orang yang Tidak Percaya akan Konsep Agama” mengungkapkan bagaimana ia secara sadar memilih percaya Tuhan tetapi tidak dengan agama. Sikap ini diambilnya atas dasar kekecewaan karena sudah terlalu banyak kebencian di dunia ini yang ditebarkan oleh oknum dengan mengatasnamakan agama. Pesan yang ingin disampaikan melalui video ini adalah kebebasan berkeyakinan dan urgensi toleransi.

Di dalam masyarakat multikultural, peliyanan bisa terjadi di beberapa lapis. Di dalam kelompok liyan bisa terjadi othering atau yang disebut sebagai minoritas dalam minoritas.Pun dalam kelompok self, tidak tertutup kemungkinan terdapat praktik peliyanan sesama self. Fenomena dalam kelompok agama Islam di Indonesia menunjukkan hal itu. yang dianggap melenceng atau menyinggung norma yang disepakati umum bisa dilabeli sebagai penista agama.

Cap sebagai penista agama pernah dilekatkan kepada komika Tretan Muslim dan Coki Pardede setelah mengunggah video memasak daging babi dengan saus sari kurma pada 20 Oktober 2018. Duo komika yang mengusung genre dark comedy ini memang kerap menyinggung masalah agama dalam komedinya lantaran merasa resah dengan darurat toleransi di Indonesia.

Pada video bertajuk, “Dari Perspektif Coki dan Muslim tentang Toleransi dan Komedi Sensitif” mereka mengungkapkan pengalaman pahit persekusi yang mereka alami sebagai imbas video kontroversial itu. Perundungan paling berat dialami oleh Tretan sebagai seorang muslim ketimbang Coki yang tumbuh dalam kultur Kristen tapi mendaku sebagai seorang agnostik. Akibat persekusi yang tidak saja berupa ujaran kebencian namun juga pencekalan dan ancaman pembunuhan itu, Tretan mengaku trauma, “Saya jadi takut sama orang dari agama saya sendiri,” ujarnya.

Sampai di titik ini, komitmen kanal “Menjadi Manusia” untuk menyediakan ruang bagi beragam perspektif bisa dibuktikan dengan privilese dan akses bagi setiap individu untuk bebas berbicara. Dengan kata lain, kanal ini telah menjalankan apa yang disebut sebagai strategic of representation and of visualization. Namun, apakah itu (saja) cukup?

***

Kendati kanal “Menjadi Manusia” telah berupaya memberikan ruang bagi kelompok minoritas tapi perlu ditelisik lebih lanjut apakah media ini benar-benar menawarkan sudut pandang baru? Ada sejumlah kecurigaan yang menunjukkan bahwa kanal ini masih terperangkap dalam jebakan perspektif the self.  Hal ini dapat ditelisik melalui video bertema queer. Video pengakuan Beno sebagai mantan transgender yang menempati ranking teratas video popular menarik bukan karena advokasi atas identitasnya yang dianggap “menyimpang” akan tetapi lebih karena kisah pertaubatannya yang dianggap berani dan menginspirasi. Kisah Beno menegaskan bahwa kehidupan yang lebih baik dapat dicapai setelah ia “kembali ke fitrah” sebagai seorang laki-laki heteroseksual. Kesimpulan akhir yang bisa diambil dari video ini adalah bukan rekognisi kepada kaum LGBT atau bagaimana kelompok minoritas gender ini bisa mendapatkan akses yang setara tetapi justru pada semangat mendisiplinkan mereka sebagaimana norma yang selama in dianggap sentral, terbukti dari sejumlah komentar warganet yang tetap mendiskreditkan LGBT.

Video yang memaparkan mengenai perspektif seorang anonim perihal mengapa ia menolak agama bisa dikatakan sebagai video paling representatif karena benar-benar disuarakan oleh seorang agnostik. Konten ini menjadi konten yang paling berani keluar dari batasan norma dan terbukti, disambut dengan rekor dislike terbanyak yaitu 1.2rb kali. Meski demikian komentar-komentar bernada negatif atau kontra tidak banyak ditemukan. Justru banyak warganet yang merasa memiliki pemikiran yang sama. Ini menunjukkan bahwa video ini berhasil memberi ruang bagi para agnostik untuk muncul.

Namun, bukan berarti video ini tanpa problem. Video ini menjadi satu dari sekian video yang dirasa perlu dibubuhi disclaimer di menit-menit awal. Dalam disclaimer tersebut redaksi nampak ingin menghindari salah paham agar video ini tidak dicap sebagai video provokasi paham agnostik.

Ketakutan tersebut tidak hanya dirasakan oleh redaksi akan tetapi juga narasumber. Ia bahkan meminta nama dan wajahnya disamarkan dalam video itu. Ia juga memilih untuk berbicara mengenai agnostisitas atas nama anonim, bukan untuk mewakili dirinya sendiri. Maka dalam video, bagian tubuh yang ditampilkan hanya kaki hingga ke leher, sementara kepalanya dibiarkan terpotong dalam kamera. Pilihan-pilihan ini justru menegaskan ketundukan kelompok berkeyakinan yang berbeda terhadap mayoritas umat beragama. Pemotongan gambar juga bisa dibaca sebagai praktik dehumanisasi di mana mereka yang berbeda tidak ditampilkan sebagai manusia atau agensi seutuhnya. Dengan demikian, maka upaya representasi gagal meletakkan identitas yang berbeda setara dengan identitas yang dianggap normal.

Batas-batas yang masih dilanggengkan dan dianggap tabu ini juga tercermin dalam beberapa hal lainnya. Rubrik “Sisi Lain” yang menampilkan para pesohor terlihat jelas ingin membedakan antara “orang biasa” dan figur publik. Pilihan ini mencerminkan logika hirarkis redaksi yang mengonfirmasi bahwa suara keduanya tidak bisa dianggap setara. Rubrik “Tentang Cinta” juga bermasalah lantaran definisi cinta yang hanya dilekatkan pada pasangan heteroseksual. Hal ini jelas sangat kontraproduktif dengan niatan kanal ini untuk menjadi eksklusif sebab definisi cinta pada akhirnya dibiarkan eksklusif.

Video-video mengenai kesehatan mental bisa dinilai sebagai praktik politik identitas yang cukup berhasil karena dengan gamblang berani menampilkan penyintas sehingga mereka bisa menyampaikan keresahannya secara bebas. Sisi advokasi yang kental dari konten-konten dengan tema ini dimungkinkan karena masalah kejiwaan dinilai sebagai suatu kelainan medis yang disepakati sehingga tidak menyinggung identitas-identitas lainnya seperti agama dan gender.

***

Pada akhirnya, bisa disimpulkan bahwa kanal “Menjadi Manusia” yang mendaku sebagai ruang inklusif untuk berbagai kalangan bebas bersuara telah menginisiasi praktik representasi diri. Setiap orang berikut identitas yang melekat padanya, diberi kesempatan untuk bicara mewakili diri mereka sendiri. Strategi ini cukup berhasil membuka cakrawala para pemirsanya mengenai eksistensi keberagamaan.

Akan tetapi dalam praktiknya, “Menjadi Manusia” masih banyak terjebak pada perspektif the self dengan seperangkat norma yang disentralisasi. Oleh karenanya gugatan-gugatan yang coba disuarakan secara halus oleh kanal ini belum berani menembus batas-batas yang ditabukan. Upaya politik identitas yang dilakukan pun tidak mencapai tujuannya untuk menyuarakan multikulturalisme serta rekognisi dan redistribusi hak kepada liyan.

*disarikan dari tugas mata kuliah Media dan Politik Representasi di jurusan Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *