Ilusi Gender Menyusui

Di pagi pertama menjadi seorang Ibu, ada perasaan gugup yang asing. Matahari sudah menyembul kala aku terbangun dengan sekujur badan yang masih remuk redam. Rasanya ingin tidur lebih lama, tapi makhluk kecil di salah satu sudut ruangan sana tak bisa lama-lama menunggu. Sebisa mungkin kucoba bangkit dan turun dari ranjang tanpa bantuan. Dengan terseok-seok kutuju kamar mandi dan kumantap-mantapkan hati untuk mengguyur sekujur tubuh yang baru saja melahirkan kehidupan ini. Kucoba melupakan nyeri-nyeri yang ada dengan memfokuskan pikiran pada gadis kecil yang kurindukan sejak semalam itu. Setelah segala persiapan kuanggap paripurna, termasuk sarapan, aku pamit pada suami yang masih terkapar setengah sadar untuk pergi ke ruang bayi. Kubiarkan dia meneruskan ibadahnya karena toh di ruangan bayi hanya ibu yang bisa masuk. Dengan langkah yang ditegap-tegapkan, kucoba menekan emosi-emosi yang muncul; antara antusias yang membuncah, kerinduan yang teramat, dan grogi level akut. Harus percaya diri, kataku pada diri sendiri. Ya, mulai pagi itu satu misiku yang lain dimulai: menyusui.

Aku lupa tepatnya kapan aku mulai menaruh atensi khusus pada proyek menyusui. Yang jelas, sejak hamil aku sudah mulai mempersiapkan bekal untuk menyusui, yaitu pengetahuan, perlengkapan, dan terutama mental. Karena isu menyusui adalah hal baru, aku sangat antusias mengulik segala hal tentangnya. Membaca buku-bukunya, mengikuti seminar dan kelas-kelasnya, mengikuti akun-akun sosial media bertema ASI, hingga berdiskusi dengan perempuan-perempuan sejawat. Waktu itu kutanamkan dalam benak bahwa aku harus bisa menyusui sebab aku adalah mamalia. Kata salah seorang konselor ASI, jika anak gorilla saja menyusu pada ibu gorilla, maka aku pun bisa menyusui anakku.

Aku sibuk menguliahi suamiku yang cuek tentang urgensi ASI dan menyusui. Kubilang padanya, dia harus jadi tamengku dari setiap orang dan kondisi yang berpotensi menggagalkan misi menyusui ini. Kuberitahunya kontak konselor laktasi jika kelak aku butuh bantuan professional. Tanggapannya? Iya iya aja.

Long story short, pagi itu aku gagal menyusui. Tak setetes pun air susu keluar dari payudaraku dan berlanjut sampai keesokan harinya. Air keramat itu baru mengalir di hari Sabtu, tiga hari paska melahirkan. Sementara ASI mampet, aku dibantu donor ASI dari Mbak Wening. Once again, thanks Mbak Wening dan Hayu yang sudah berbagi makanan 🙂

Sejak Sabtu itu hingga enam bulan kemudian, alhamdulillah, putri kecilku bisa dicukupi dengan ASIku saja. Dengan kata lain, proyek ASI eksklusif berhasil. Tentu saja setelah melewati sekian drama dan taktik. Di awal-awal menyusui aku bersyukur bisa dijauhkan dari tekanan-tekanan yang mengganggu proses itu. Putri kecilku juga tidak memiliki indikasi medis untuk mengonsumsi selain ASI. Tantangan-tantangan seperti puting lecet, milk blister, mencari media yang tepat untuk memberi ASI perah (ASIP), kejar setoran stok ASIP, hingga pumping di segala situasi, alhamdulillah bisa diatasi. Ini tentu tak lepas dari lingkungan supportif yang tak semua perempuan punya.

Aku mendengar banyak cerita tentang perempuan-perempuan yang gagal menyusui karena berbagai hal. Kurangnya persiapan menghadapi fase menyusui dan tekanan dari orang-orang terdekat menjadi faktor dominan. Tidak sedikit perempuan yang jatuh rasa percaya dirinya lantaran air susunya belum keluar di masa-masa awal melahirkan sementara lingkungannya terus menekan atau melakukan hal-hal kontraproduktif lainnya, alih-alih memberi dukungan. Kondisi ini tak jarang justru memperburuk keadaaan di kemudian hari.

Setelah melewati enam bulan ini, aku bisa lebih bersimpati pada ibu-ibu yang proyek menyusuinya tak sesuai ekspektasi. Karena kesimpulannya memang bahwa menyusui adalah sebuah praktik yang harus diupayakan. Bukan something taken for granted. Di hari-hari awal paska melahirkan aku bahkan harus berbohong pada keluarga kalau ASIku sudah keluar padahal belum demi menghindari tekanan yang bisa berpengaruh buruk pada kondisi psikisku. Syukurlah saat itu di rumah sakit, aku cukup berdua saja dengan suami. Keputusan untuk mencari ASI donor pun, cukup berdasarkan musyawarah kami.

Jadi kalau ada pernyataan bahwa menyusui sebagai suatu proses biologis alamiah perempuan, kini aku bisa mengatakan bahwa itu keliru. Bahwa perempuan memiliki payudara ya, itu adalah kondisi biologis, tapi menyusui adalah tindakan kultural, tindakan yang dipelajari. Kalau merujuk pada pemikiran dekonstruktif Judith Butler, tidak berlebihan jika mengatakan menyusui sebagai ilusi gender. Semacam norma hegemonik yang sudah mengakar di masyarakat.

Feminis Amerika ini mengaitkan persoalan identitas, termasuk gender, dengan performativitas (performativity). Performativity berbeda dengan performance atau penampilan. Performativitas dimaknai sebagai tindakan repetitif yang dilakukan manusia melalui proses pengutipan (citation) atas apa yang sudah dilakukan oleh orang lain sebelumnya. Tindakan ini diproduksi pada kulit melalui gestur, gerakan, pakaian, gaya berjalan, dan seterusnya, atau singkatnya pada tubuh, yang kemudian membentuk identitasnya. Sehingga, identitas dipahami tidak sebagai who we are tetapi what we do.

Maka jika meminjam teori Butler, menyusui tak ubahnya sebentuk performativitas, praktik yang dilakukan secara berulang-ulang pada tubuh dari generasi ke generasi hingga menciptakan norma atau konvensi tertentu. Repetisi yang dilakukan terus menerus ini lantas memproduksi apa yang disebut “ideal” yang pada akhirnya membentuk ilusi, seakan-akan alamiah.

Secara umum, gagasan Butler bisa dikatakan radikal, membongkar paham-paham esensialistik yang ada sebab tak hanya gender, kategori seks pun menurutnya performativitas belaka. Namun lepas dari itu, untuk urusan menyusui agaknya pemikiran Butler penting untuk diamini agar sekali lagi, tak membayangkan perkara menyusui sebagai sesuatu yang taken for granted. Ini berlaku baik bagi perempuan yang ingin menyusui maupun kita sebagai society. Jika kamu sebagai perempuan ingin menyusui, maka cukupkanlah dengan ilmu dan upayakan dengan gigih. Ya, bagi muslimah, pemberian ASI jelas disebutkan di Al-quran, namun bukan berarti tanpa ihtiar. Sementara itu mari kita berhenti menghakimi perempuan yang tidak menyusui karena tidak menyusui sama sekali tidak mengurangi value-nya sebagai ibu, sebagai perempuan.

Sampai di titik ini, jika satu setengah tahun ke depan aku menjumpai tantangan menyusui yang tak bisa kuatasi, I’ll be totally fine. Tapi, karena hingga saat ini aku masih ingin menyusui, maka akan kulakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya, termasuk, sebagai orang beriman, memohon keridaan-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *