Sensasi Pertama Menjadi Ibu

Sesampai di rumah sakit aku perlahan turun dari motor dan suami menurunkan barang-barang. FYI, saat itu bawaanku banyak sekali, mulai dari tas berisi baju, perlengkapan bayi, bantal menyusui, tikar, hingga rol kabel. Total ada satu tas berukuran sedang dan sebuah tas laundry besar. Bantal menyusui serupa donat raksasa itu tentu tidak masuk tas, maka kugamit ia sepanjang perjalanan. Bisa dibayangkan betapa rempongnya membawa sekian banyak bawaan itu. Tapi, jangan salah, ini sudah berdasarkan riset lapangan.

Di usia kehamilan tujuh bulan aku sempat masuk rumah sakit selama dua hari lantaran diare. Momen itu jadi kesempatan untuk menjajal fasilitas rumah sakit yang sejak awal kutuju untuk lahiran berikut asuransi BPJS yang kupunya. Karena menurut kabar ruang rawat inap Kelas I di rumah sakit itu sering penuh seperti saat aku opname dulu, maka membawa fasilitas mandiri semacam tikar dan colokan kami rasa perlu sebagai support system kalau-kalau dapatnya di Kelas II, dan biar nggak perlu bolak-balik. Alhamdulillah beneran dapat Kelas II jadi bawaan segunung ada manfaatnya.

Selesai barang-barang diturunkan, aku duduk di depan UGD sambil sesekali meringis menahan kontraksi menunggu suami parkir motor di belakang. Security di dekatku menyapa, 

“Mau lahiran ya Bu?” 

“Iya.” 

“Kok bawaannya banyak, sekalian opname ya?” 

“Ya.”

Suamiku datang dan kami menuju meja jaga. Benar saja, si dokter jaga baru saja selesai berbuka, kotak Tupperware masih menganga di hadapannya. 

“Mbak saya sudah merasa kontraksi intens,” kataku to the point. 

“Oh ya Bu mari, Bapak di sini dulu ya.”

Suster membawaku masuk ke ruangan, memisahkanku dengan suami yang harus mengurus administrasi. Jeda kontraksi semakin rapat. Aku mulai sulit menenangkan diri. Suster mengecek bukaan dengan memasukkan dua jarinya ke jalan lahir kemudian membuat gerakan memutar. Tidak lama kemudian sambil mengacungkan jari berlumuran darah segar ia melaporkan, “Sudah bukaan empat, Bu.” Alhamdulillah, batinku. Six more to go…

Bermodal bukaan jalan lahir selebar empat sentimeter itu aku pun di bawa ke ruang bersalin dengan kursi roda. Sesampai di sana telah ada seorang perempuan yang juga tengah berjuang menuju bukaan lengkap. Ibu perempuan itu mengangguk padaku seolah berkata, “Selamat berjuang, sudah waktunya.”

Saat aku dibaringkan di ranjang bersalin rasa nyeri itu semakin tak bisa kutahan. Kuingat-ingat lagi pesan instruktur yoga tempo hari untuk selalu ingat dan fokus pada nafas. Tiap nyeri itu datang aku coba tarik napas panjang dan hembuskan lewat mulut. Yang menyebalkan adalah suamiku masih saja diminta mengurus ini itu, sementara aku sudah mulai kepayahan dan butuh teman. 

“Suami saya suruh ngapain lagi mbak?” Protesku. 

“Sebentar ya Bu.” 

“Lama nggak? Jangan lama-lama!”

Huuuh huuuh aku coba atur nafas sedemikian rupa sambil masih merapal wirid semampuku. Tapi ada dorongan kuat yang tak mampu kutahan. Ada desakan yang membuatku ingin mengerang.

“Mbaak, saya sudah pengen ngejan!” Aku harus berteriak karena suster agak jauh dari jangkauan.

“Sebentar ya Bu, tahan dulu.” Ia lalu melakukan pengecekan jalan lahir dengan prosedur seperti sebelumnya. “Baru bukaan delapan. Tahan dulu ya Bu,”

“Aaarghhhh.”

“Bu, jangan ngejan dulu, kasihan adiknya. Tarik nafas ya…”

“Huuuuhhh.”

“Bukan gitu Bu, tarik nafas buka mulut sambil dibunyikan yang keras, haaaah,” teknik pernafasanku dikoreksi. Perasaan di yoga gak gini, batinku.

Suamiku datang dengan menenteng plastik besar yang belakangan aku tahu kalau itu popok ibu melahirkan dan dua kotak susu formula. Satu untuk ibu menyusui, satu untuk bayi di atas enam bulan (jadi benar informasi bahwa banyak rumah sakit bekerja sama dengan pabrik susu formula. Tapi karena rumah sakit ini berkomitmen pada ASI eksklusif enam bulan, maka dikasihnya susu formula bayi 6+, lucu juga.) 

Pada suamiku aku langsung melapor,

“Udah gak kuat nahan ngeden.”

“Sabar, tarik nafas.”

“Eeerrggghhh.”

“Bu! Jangan ngeden. Tarik nafas, itu Ibu ngeden.”

“Susah mbak…”

Aku makin pontang panting sementara sensasi nahan mengejan itu membuatku menggigil tak karuan.

Beberapa menit berselang aku semakin kepayahan menahan dorongan untuk mengejan. Suster memutuskan mengecek lagi dan ternyata aku sudah bukaan lengkap. Dengan sigap mereka langsung menaruh kedua kakiku di atas penyangga besi. “Kok aku tidak ditanya mau posisi lahiran seperti apa ya?” batinku. Tapi ah sudahlah aku percaya pengalaman mereka saja, biar cepat.

“Sekarang ya mbak?” kataku meyakinkan diri apa ini benar-benar saatnya melahirkan.

“Lha Ibu maunya sekarang apa nanti?” seloroh si suster.

Lalu datanglah sosok itu, pria tambun yang jadi andalanku dan suami selama masa kehamilan dr. Nizar Hero, Sp.OG. Dia langsung memberiku tutorial mengejan.

“Kalau nanti kenceng-kencengnya datang, ngejan sambil meringis tapi jangan ada suaranya ya,” instruksinya. Oke, sepertinya mudah, pikirku. Lalu datanglah nyeri itu, gelombang cinta itu, aku mengejan sesuai prosedur sambil menggenggam tangan suami tapi belum membuahkan hasil.

“Oke oke, istirahat dulu. Setelah ini coba lagi ya, lawan rasa sakitnya,” kata sang Dokter. Ia memintaku berpegangan pada gagang besi dan suamiku diinstruksikan memegang kepalaku.

“Yang kenceng ya,” pesanku pada suami. Saat gelombang itu muncul aku tarik nafas, mengejan sekali lagi sambil mencoba fokus ke jalan lahir. 

“Ayo ayo sedikit lagi, kepalanya udah kelihatan,” suami menyemangati. Aku terus mengejan sampai ada sensasi “Blup,” bayi ditarik keluar oleh dokter. Saat itu ada rasa perih di jalan lahir tapi aku tak tahu dokter melakukan episiotomi atau tidak, dan aku juga tidak bertanya.

“Yah, udah, udah,” kata suami. Si jabang bayi dibersihkan pernafasannya lalu menangis dengan kencang. Ia kemudian diletakkan di atas dadaku sementara dokter menjahit jalan lahir. 

Aku kehilangan kata-kata mendekap makhluk kecil yang selama ini menghuni rahimku itu. Putri kecilku sempat terbatuk di pelukanku dan aku hanya bisa berkata, “Sayang…”

Dia begitu mungil. Di minggu-minggu terakhir pertambahan berat badannya memang kurang dari target. Kendati aku sudah mengonsumsi sekotak eskrim tiap malam selama berminggu-minggu tapi saat memeluk bayi itu aku merasa upayaku menaikkan berat badannya di dalam kandungan sepertinya tidak berhasil. 

Benar saja, setelah jahitan, IMD, dan pemotongan tali pusat selesai bayiku ditimbang dan beratnya hanya 2.390 gram, padahal minimalnya 2.500 gram. 

Ia pun dimandikan lalu sejurus kemudian ibuku datang dan segera menggendong cucu pertamanya itu dengan penuh sukacita. Setelah diazani ayahnya, suster bilang dia harus dibawa ke ruangan khusus untuk diobservasi karena berat badan lahirnya kurang. Itu artinya kami tidak bisa dirawat gabung. Aku mengiyakan sembari memeluk sebentar anakku. Oh, rasanya aku tak mau berjauhan dengan buah hatiku. 

“Kapan saya bisa menyusuinya suster?” 

“Ibu istirahat dulu malam ini. Besok Ibu bisa ke ruangan bayi untuk menyusui.”

Malam itu, setelah membantu membersihkan diri dari darah-darah dan membantuku pindah ke ruang rawat inap, ibuku pulang ke Magelang dengan membawa plasenta atau ari-ari untuk dikubur.

Di kamar rawat inap Kelas II itu aku hanya ditemani suamiku. Di bilik samping ranjangku juga ada sepasang suami istri yang baru melewati proses persalinan. Suasana hatiku tak menentu. Ada perasaan lega bersamaan dengan sensasi sengkring-sengkring di bekas jahitan jalan lahir, sekaligus pikiran yang terus tertuju pada buah hatiku. Sedang apa ya dia? Kedinginan tidak ya? Apa dia sudah haus? Di saat yang sama aku juga didera nervous. Esok pagi aku harus menyusuinya, apa diriku ini bisa menyusui? Tapi kegalauan itu segera kutepis agar tak menimbulkan stress yang bisa menghambat produksi ASI ku.

Hampir tengah malam, suami tiduran lesehan di bawah ranjangku. Beberapa jam pasca aku melahirkan, ia sudah sempat pulang ke rumah kontrakan untuk mengambil selimut tambahan dan juga ke burjo untuk menyantap Indomie goreng, makanan pantangannya selama dua tahun. “Aku makan Indomie dalam rangka syukuran kelahiran anak,” ujarnya berpleidoi. Dia juga masih tetap membuat konten untuk akun Instagram yang dibinanya. Saat aku masih terus membicarakan proses persalinan dan overwhelmed dengan segala hal yang baru saja terjadi, air mukanya datar-datar saja. Hidup baginya seolah-olah berjalan biasa saja kecuali satu hal, “Aku kesel banget wira-wiri, pengen pijet.” What? Kalimat yang terdengar sangat ajaib di telinga seorang perempuan yang baru saja melahirkan yang konon sakitnya bagai beberapa tulang yang dipatahkan secara bersamaan. Bisa-bisanya dia bilang capek.

Tapi ya sudahlah setidaknya semua sudah dilalui dengan relatif lancar. Dan semua ini bisa terjadi tentu atas konspirasi berbagai elemen semesta. Aku berterima kasih atas kucuran doa Bu Nyai, orang tuaku, teman-teman, dan sanak saudara, dan siapapun yang doanya diijabah oleh Allah swt sehingga aku tidak menemui kendala persalinan yang berarti. Ah aku juga berterima kasih pada suamiku yang bisa diandalkan dan mempercayai instingku sebagai calon ibu to lead this journey.

Maka dari atas ranjang rumah sakit malam itu aku ulurkan tangan pada lelaki yang kini resmi jadi ayah itu. “Terima kasih atas kerjasamanya hari ini, ya.” Sayangnya, uluran tangan yang dramatis itu tidak bersambut. Dengan wajah yang masih datar, kelelahan dan mulai mengantuk, dia cuma berucap, “Mbel…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *