Detik-detik Sebelum Menjadi Ibu

Saat USG terakhir di usia kehamilan 38 minggu, dokter bilang plasentaku sudah mulai pengapuran, tampak ada bercak-bercak putih di layar alat yang ia operasikan itu. Pengapuran kurang lebih disebabkan oleh penuaan plasenta. Seperti manusia, saat ia menua, fungsi organ tubuhnya akan berkurang, sama halnya dengan plasenta yang berfungsi mengantarkan nutrisi ke janin. Begitu yang aku pahami. Kata dokter langgananku dari usia kehamilan satu bulan itu, jika sampai pada hari perkiraan lahir (HPL) aku belum merasakan kontraksi, maka induksi harus dilakukan.

Selasa, 7 Mei 2019
Di usia kehamilan 39 minggu 2 hari aku masih kuliah dan melakukan tugas presentasi terakhir. Aku sempat ngobrol dengan Mbak Wening, teman sekelas cum sobat hamilku yang baru saja lulus alias melahirkan pada bulan Maret. Dia menganjurkanku untuk cari second opinion ke dokter lain ihwal pengapuran plasenta agar persalinan pervaginam tanpa induksi bisa diperjuangkan. Aku merenungkan masukannya. Anyway, aku merasa sangat beruntung memiliki teman seperhamilan macam Mbak Wening yang tidak segan-segan sharing ilmu dan masukan bergizi.

Sore hari sebelum pulang, aku menyempatkan diri berfoto di depan kantin untuk memenuhi request seorang bulik yang penasaran dengan perut buncitku dan penampakanku setelah menggelembung sebesar 16kg. Foto itu kelak jadi dokumentasi hamil terakhir yang kupunya.

Malam harinya aku dan suami mempertimbangkan soal USG di dokter lain untuk cari second opinion perkara plasenta. Namun, obrolan malam itu tidak berbuah solusi praktis. Aku agak merasa bersalah pada si janin karena tidak berusaha mengupayakan kontraksi alami. Aku memang berharap dia tenang-tenang dulu di dalam sana sampai aku siap melahirkan setelah semua urusan kuliah selesai. Perlu diketahui, HPLku saat itu tepat di dua minggu sebelum perkuliahan semester genap berakhir. Aku yang tidak ambil cuti (karena itu artinya aku akan kehilangan satu semester) berharap si jabang bayi lahir sesuai HPL sehingga aku hanya perlu izin di dua minggu terakhir perkuliahan dan menyelesaikan semua tugas.

Namun kemudian, aku memilih menundukkan egoku. Di malam bulan Ramadhan itu, sebelum tidur kubisikkan sebuah kalimat kepada si jabang bayi. Aku lupa persisnya, tapi kurang lebih, aku memohon padanya agar segera membuat manuver untuk membuatku kontraksi, kubujuk ia supaya bisa lahir spontan. Ketika tugas presentasiku telah usai dan hospital bag serta skenario BPJS kunilai sudah kupersiapkan dengan cukup matang, saat itu aku merasa sudah siap menyambutnya lahir ke dunia. Malam itu, di kamar yang dindingnya penuh tempelan kertas-kertas list deadline tugas-tugasku yang belum 100% selesai (karena masih ada empat final paper menanti pasca melahirkan) aku mencoba tidur dengan tenang tanpa ada firasat apapun.

Rabu, 8 Mei 2019
Subuh, di dalam kamar mandi aku terkesiap oleh adanya bercak kecoklatan di celana dalam. Dari sejumlah cerita dan artikel yang pernah kubaca, flek adalah tanda-tanda mendekati persalinan. Saat itu aku belum merasakan kontraksi dan mencoba tetap tenang. Yang tak kuasa kubendung adalah rasa takjub dan haru betapa komunikasi janin yang kulakukan semalam bisa seefektif ini.

Aku kembali ke kamar, cepat-cepat shalat, dan sengaja tidak membangunkan suami yang baru berangkat tidur. Selain karena tidurnya orang puasa adalah ibadah, juga supaya dia punya stamina yang cukup untuk mendampingiku jika harus melahirkan dalam waktu dekat.

Aku tidak ingat gerakan-gerakan apa yang aku lakukan untuk membuka jalan lahir. Seingatku, sepagian itu aku rebahan saja, ya rebahan. Kubuka-buka lagi artikel-artikel penjelasan mengenai flek berikut birthstory dari sejumlah kawanku. Ah ya, aku sangat berterimakasih pada perempuan-perempuan yang membagikan pengalaman melahirkannya di media sosial, karena itu sangat membantu untuk mengenali kondisiku. Keterangan yang kudapat soal flek bermacam macam, ada yang mengatakan biasanya persalinan akan terjadi kurang lebih 24 jam kemudian, namun ada juga yang bilang bisa sampai beberapa hari atau beberapa minggu ke depan. Saat itu usia kehamilanku 39 minggu 3 hari. Artinya, masih ada 4 hari menuju HPL.

Saat suamiku bangun kira-kira pukul 09.00 aku mengatakan bahwa telah mengalami tanda-tanda mendekati persalinan dan memutuskan untuk tidak berangkat kuliah demi mengobservasi kondisiku. Ia mengiyakan dan kembali tidur. Aku lanjut rebahan.

Selama rebahan itu aku memilih nonton vlog Raditya Dika untuk membangun kesiapan mentalku. Entah sejak kapan aku mengikuti channel youtube-nya, tapi saat itu aku bersyukur ia sudah mengunggah cerita persalinan istrinya, Anissa Aziza, pada 6 Mei lalu, sehingga aku bisa memvisualisasikan dengan lebih detil kira-kira bagaimana proses persalinan itu. Untungnya proses persalinan Anissa bisa dikatakan gentle sehingga aku tak perlu merasa panik saat itu.

Sekitar pukul 11.00 aku mulai merasakan ada sensasi nyeri di area bawah pusar. Dan saat itu pula tiba-tiba suatu pesan Whatsapp yang ajaib muncul dari kontak yang kunamai: Ibu Warson, ibu nyaiku di Krapyak yang sangat aku hormati. Beberapa hari sebelumnya aku memang sowan beliau untuk meminta nama anak. Seakan ada feeling yang kuat, pagi itu beliau menanyakan kabarku dan mengatakan bahwa akan memberikan nama setelah bayiku lahir. Aku pun segera mengabarkan kondisiku yang tengah mulai kontraksi. Beliau kemudian menyebutkan sejumlah surat Al-Quran untuk aku wiridkan agar persalinan lancar.

Praktis siang itu aku tak bisa lagi tenang-tenang rebahan. Mulutku mulai komat-kamit merapal wirid sembari sebisa mungkin memperbanyak gerak. Flek yang tadinya hanya bercak menjadi semakin banyak dan warnanya pun semakin terang. Kucek lagi hospital bag, kusempatkan untuk menyapu dan mencuci piring agar tidak meninggalkan rumah dalam keadaan kotor, sambil masih coba bersikap tenang. Aku juga masih shalat dengan prosedur shalatnya orang istihadhoh.

Salah satu berkat nonton vlog Anissa Aziza pagi itu adalah aku jadi tahu kalau ada aplikasi penghitung kontraksi. Maka aku segera cari versi gratisnya di playstore dan menggunakannya. Sungguh aplikasi ini merupakan teknologi tepat guna. Dari mulai interval tak beraturan selepas dzuhur, bakda asar ia telah menunjukkan kontraksi interval 6 menit sekali. Berbekal nasihat dari influencer panutan @bidankita bahwa sebaiknya pergi ke rumah sakit dengan pedoman 5-1-1 (kontraksi interval 5 menit, durasi 1 menit, selama 1 jam) maka aku merasa tak perlu buru-buru. Tanpa ada air ketuban yang pecah atau merembes, kuperhitungkan, aku masih bisa berangkat ke rumah sakit bakda maghrib, supaya suamiku bisa berbuka dulu di rumah, aku juga bisa sholat dulu, dan setiba di rumah sakit para perawat yang berpuasa juga sudah terisi perutnya sehingga emosinya bisa lebih terkendali. Mengantisipasi energi dari sekitar ini penting buatku untuk mencapai gentle birth karena ya, aku kan tidak punya privilege untuk bisa lahiran di rumah sakit elit yang tenaga medisnya dijamin ramah dan sabar, maka dalam kasusku timing menjadi penting.

Bakda Asar kupikir jadi saat yang tepat untuk mengabari keempat orang tua. Mertua dan keluarga Mojokerto hanya bisa mendoakan dari jauh sementara ibuku panik ketika kubilang akan ke rumah sakit selepas Maghrib, karena takut bayinya brojol duluan. Ia mendesakku ke rumah sakit saat itu juga. Ya sudah kuiyakan, tapi tidak kulakukan, toh beliau juga di Magelang. Kukira aku cukup yakin dengan kalkulasiku.

Suamiku mulai ketularan panik dan mengajak berangkat ke rumah sakit saat itu juga namun kutolak. Maka jelang maghrib ia masih sempat cari takjil dan beberapa perlengkapan titipanku seperti tisu dan pembalut tambahan. Di rumah, aplikasi contraction timer sudah mengatakan saatnya untuk pergi ke rumah sakit.

Tepat setelah maghrib saat kami sudah shalat dan suamiku tentunya sudah berbuka, kami berangkat ke rumah sakit dengan berboncengan motor alih-alih ojek mobil online setelah mengukur kekuatanku serta efisiensi waktu. Kebetulan tetangga kiri kanan nampaknya masih berkutat dengan takjilnya hingga tak menyadari kepergian kami. Sepanjang perjalanan itu aku menahan perut tiap ada guncangan karena khawatir ketuban pecah, sambil terus merapal wirid dari Ibu Nyai. Aku gugup tapi mencoba menguasai diri. Aku pasrah tapi tidak mau kehilangan keyakinanku.

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *